Eyang Subur dan Dalih Manusia Mencari Cahaya

cahaya

Sumber : http://www.cable.co.uk/guides/virgin-media-tv-what-can-i-watch/

Siapa sih Eyang Subur? Apakah seorang kapitalisme, neo-liberalisme atau sekedar sosok yang sedang diangkat oleh media massa sebagai simbol bahan diskusi media yang mulai mengalami kekurangan sumber berita, yang ujung-ujungnya akan menaikkan rating  acara infotainment stasiun televisi?

Apakah saya mengenal sosok Eyang Subur?. Liburan long week-end di rumah, membuat saya punya cukup waktu dalam menonton acara televisi. Ini memang bukan kebiasaan saya, namun beberapa kali membuka chanel TV, ujung-ujungnya terhenti di acara infotainment yang menayangkan mengenai profil Eyang yang sedang mendapat sorotan karena adanya sekelompok orang yang menudingnya sebagai sosok dukun atau guru spiritual yang bila diperhatikan ternyata cukup akrab dengan Celeb Indonesia dan kaum sosialita Jakarta. Bagaimana tidak, cukup banyak artis yang memberikan pendapat tentang beliau karena kedekatan komunikasi dengan sosok yang selain mendapatkan tuduhan sebagai dukun dengan aliran sesat-nya tetapi sangat dermawan dalam memberikan perhiasan, motor, mobil dan banyak benda-benda yang tergolong “mahal” bagi ukuran class social bawah dan menengah. Ditengah issue sibuknya DPR mengodok Rancangan Undang-undang mengenai “santet”, entah kenapa kasus ini muncul juga, bahasan mengenai guna-guna, peristiwa-peristiwa mistis, obrolan tentang kehidupan pasukan jin malah menjadi suatu diskusi hangat di jejaring sosial yang mengundang banyak tanggapan mengenai sosok spritual si Eyang.

Kubu yang menyerang  membentuk opini publik yang tidak tanggung-tanggung, membeberkan bagaimana sepak terjang si Eyang yang melarang ritual agama,melakukan ritual spiritual unik, dan tidak lupa mengorek kehidupan poligami Eyang memiliki isteri sembilan! Saya perhatikan, kubu ABS yang gencar menceritakan Si Eyang merupakan kubu barisan sakit hati. Bagaimana tidak semua yang dibeberkan jelas-jelas merupakan serangkaian memori buruk yang pernah ditorehkan si Eyang dalam kedekatan kebersamaan di masa sebelumnya antara mereka. Hilang semua memori baik dan alasan mengapa dulu adanya kebanggaan sebagai bagian dari anggapan sebagai keluarga angkat. Berita ini mengoyak-ngoyak akal sehat saya. Di tengah perjuangan masyarakat menghadapi moderenisasi saat ini, masih saja muncul non-realistis conflict  di masyarakat kita, konflik yang terjadi pada kelompok yang saat ini memberi drive cukup besar dalam menanamkan proses pembelajaran masyarakat, dan ini dibahas penuh oleh media dihampir semua stasiun TV! memang masalah mengenai sesuatu yang non-realistis di bangsa ini selalu jadi santapan yang menarik, atau bisa saya katakan bahan diskusi yang “menjual”, menjual nama, menjual popularitas pihak yang terlibat dan menjual cerita mistis yang irasional termasuk menjual ide kreatif untuk sebagian orang secara diam-diam mendapat ide dan terinspirasi untuk mengikuti jejak kehidupan sang Eyang. Ditambah sebuah fakta menarik munculnya ormas yang datang jabanin rumah Eyang sebagai pihak mediator yang bermaksud memberi cahaya perdamaian kedua belah pihak, padahal secara track record dapat menjadi potensi “pemantik” terjadinya konflik horisontal di masyarakat.

Saya menemukan beberapa hal yang ganjil dalam cara berpikir sekelompok masyarakat sehubungan dengan kasus yang mencuat ini. Kasus ini membuktikan bahwa masyarakat umum kita memang masyarakat yang belum maju dalam berpikir, cara berpikir yang teologis-mistik masih merupakan cara berpikir yang dipilih, ada kemalasan dalam berpikir rasionalitas dan kurang dalam menyelesaikan masalah hidup, salah satunya dengan terbongkarnya seperangkat ritual untuk mendapatkan rejeki, popularitas dengan jalan mendapatkan jimat dan upacara-upacara yang jauh dari akal sehat. Kemalasan dalam berpikir dan bekerja telah  berurat akar dan terkadang menjadikan mudahnya masyakat konformis terhadap kelompok yang menularkan banyak nilai-nilai yang jauh dari nilai kesucian agama. Terbukti dengan pengakuan banyak kalangan yang mengenai sosok Eyang karena dikenalkan melalui pergaulan dan undangan pesta dengan mengundang artis ke tempatnya atau sekedar meminta pendapat spitualitas yang katanya untuk memecahkan masalah-maslah kehidupan. Kemalasan dalam berpikir mandiri dan rasional jugalah yang akhirnya membawa sekelompok orang yang mangatasnamakan agama dan melompat atas dasar masalah dengan mengaitkan kehendak Tuhan dan pembelaan atas nama Tuhan kepada situasi yang absurd. Sikap yang sering muncul membuktikan kerdilnya jiwa dan sangat kekanak-kanakan.  Tidak tau berapa lama lagi hal semacam ini akan menjadi suatu sajian di Televisi yang berkontribusi dalam  pembelajaran masyarakat itu sendiri. Eyang dan pihak-pihak yang terlibat hanyalah beberapa tokoh yang muncul dengan bentukkan opini media mengenai kelompok pro dan kontra dan terseret dalam bahasan mengenai carut marutnya manusia dalam mengatasi kekosongan hati yang disupport oleh kemalasan berpikir dan keterjebakan manusia dalam berpikir teologis-magis. Perseteruan dua kubu, kubu Eyang dan kubu barisan sakit hati adalah sekelumit permasalahan masyarakat dalam menjalani proses kehidupan yang rapuh, jauh dari Tuhan. Semoga cepat terselesaikan, dan media menyajikan hal informatif yang lebih dibutuhkan masyarakat.

About these ads
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s