Sekolah Sebagai Organisasi Pembelajar

 

Sumber :http://www.thechangeforum.co/Learning_Disciplines.htm

Pada dasarnya organisasi seperti mahluk hidup yang kelangsungan hidupnya sangat ditentukan oleh kemampuannya untuk beradaptasi dengan lingkungan.  Perubahan lingkungan strategis organisasi yang sangat cepat dalam berbagai dimensi, seperti teknologi, sosial, ekonomi, perundangan, globalisasi, dan dimensi lainnya menuntut organisasi untuk mampu beradaptasi pada perubahan itu. Apabila organisasi terlambat untuk berubah maka sangat besar kemungkinan organisasi akan mundur kinerjanya bahkan, dapat hilang dan mati. Oleh karena itu suatu hal yang harus dilakukan oleh organisasi untuk tetap bertahan dan berkembang ialah apabila organisasi mau mempelajari perubahan lingkungan strategik dan segera beradaptasi pada perubahan yang terjadi.

Konsep asli yang dibawakan oleh Peter Senge mengenai  organisasi pembelajar dan bagaimana praktik seharusnya akan dibahas dalam tulisan ini, serta bagaimana sekolah juga diharapkan dapat menjadi organisasi pembelajar, di dalam praktik dan keberadaannya dalam perkembangan perubahan pendidikan di Indonesia. Bagaimana sekolah mampu mewujudkan learning organisation (innovasi, perubahan, dan ekologi).

Ide mengenai organisasi pembelajar merupakan ide yang cukup terdengar belakangan hari ini, setelah tercetusnya apa yang dikemukakan oleh Peter Senge. Organisasi pembelajar adalah organisasi yang memberikan kesempatan dan mendorong setiap individu yang ada dalam organisasi tersebut untuk terus belajar dan memperluas kapasitas dirinya. Organisasi merupakan merupakan organisasi yang siap menghadapi perubahan dengan mengelola perubahan itu sendiri (managing change).

Ada lima disiplin (lima pilar) yang membuat suatu organisasi menjadi organisasi pembelajar, yaitu :

  1. Personal Mastery yaitu belajar untuk memperluas kapasitas personal dalam mencapai hasil kerja yang paling diinginkan, dan menciptakan bagaimana lingkungan organisasi mampu menumbuhkan kesadaran setiap anggota untuk mau terus berkembang agar dapat tercapai harapan dan makna  yang ingin di capai dalam  berkerja.
  2. Mentals model yaitu proses bercermin, yang memperjelas dan meningkatkan gambaran diri kita tentang dunia luar dan melihat bahgaimana lingkungan membentuk keputusan dan tindakan kita.
  3. Shared Vision, adalah bagaimana dapat membangun rasa komitmen dalam suatu kelompok, dengan mengembangkan gambaran bersama mengenai masa depan yang diciptakan, prinsip dan praktik yang menuntun cara kita mencapai tujuan masa depan tersebut.
  4. Team Learning adalah bagaimana mentransformasikan pembicaraan dan keahlian berpikir, sehingga suatu kelompok dapat secara sah mengembangkan otak dan kemampuan yang lebih besar dibanding ketika masing-masing anggota kelompok bekerja sendiri.
  5. System thinking adalah bagaimana cara pandang, cara berbahasa untuk menggambarkan dan memahami kekuatan dan hubungan yang menentukan perilaku suatu sistem. Faktor ini membantu kita untuk melihat bagaimana mengubah sistem secara efektif dan untuk mengambil tindakan yang lebih pas sesuai dengan proses interaksi antara komponen suatu sistem dengan lingkungan yang ada.

Praktik kelima disiplin yang dipaparkan di atas tidaklah mudah dijalankan dalam konteks Indonesia. Menurut Peter Senge Banyak organisasi yang mengatakan dirinya sebagai organisasi pembelajar. Dalam dunia pendidikan, sekolah dapat dikatakan sebagai learning organization, dan dari hasil penelitian mengungkapkan bahwa siswa zaman sekarang memiliki motivasi dan kompetensi yang rendah. Sekolah diharapkan mampu mengatasi kesenjangan ini dan harus menjadi bagian dari solusi dimana siswa dapat belajar untuk menganalisis masalah dan situasi yang mengembangkan siswa untuk berkomunikasi, berpikir dan terus mau belajar, menunjukkan sikap, tanggung jawab dan kemampuan beradaptasi yang tinggi dan dapat bekerja sama (McLaughin, 1992, p.3). Namun kondisi sekolah yang ada di Indonesia saat ini menurut penulis belumlah menunjukkan keberadaan sebagai learning organization karena sulitnya melakukan perubahan-perubahan. Ditemukan beberapa  kendala utama yaitu, kompleksitas kemampuan dalam hal pedagogi, dimana seharusnya pedagogik akan menjadi standar atau kriteria keberhasilan praktek pendidikan di sekolah dan juga untuk mempertanggungjawabkan pendidikan bagi siswa, agar  landasannya tidak jadi sembarangan.

Masalah lainnya yaitu kurangnya pendekatan, dan penilaian, kurang efektivitas sekolah sebagai organisasi pembelajaran dan sulitnya melakukan perubahan pendidikan. Kegagalan perubahan pendidikan ini disebabkan oleh kurangnya efektivitasnya proyek perubahan, sulitnya mengubah budaya dari proses Kegiatan Belajar Mengajar, sulitnya memperbaiki hubungan antara sekolah dengan orang tua dan sebagainya, serta perubahan yang kompleks dalam masyarakat itu sendiri.  Hal ini tentu saja menghancurkan tujuan moral mengajar para guru dimana guru kehilangan rasa aman, motivasi, kepercayaan diri, kepuasan kerja, kuatir akan masa depan,  Cox dan deFrees (1991) mengungkapkan beberapa project dalam merestrukturisasi  program sekolah yaitu memperjelas fokus transformasi, membuat perubahan yang sistematis dan organisasional, mengatur proses perubahan, mendayagunakan dana seefektif mungkin untuk melakukan perubahan untuk meningkatkan professional development.

Sekolah pada masa kini  perlu belajar dari lingkungannya karena sekolah juga merupakan bagian dari lingkungan. Hal ini dapat diwujudkan dengan kolaborasi antar sekolah, kerja sama orang tua dan komunitas, menjangkau dunia pekerjaan/bisnis, dan kolaborasi antara yayasan dengan agen pemerintahan. Hal ini tentu saja memerlukan struktur, aktivitas, dan pekerjaan yang baru dari setiap insitutusi untuk menggali informasi, bantuan, dan orang-orang untuk mencapai misi mereka.

Sebuah organisasi pembelajaran adalah sebuah organisasi dmana setiap individu memiliki perkembangan dan pembelajaran mereka sendiri, dimana organisai mendukung dan menghargai setiap orang untuk belajar, dimana organisasi ini mengembangkan kapasitas belajar untuk menghasilkan kapabilitas yang baru.

Ada tiga level pembelajaran dalam organisasi pembelajaran yaitu:

  1. Pembelajaran individu dimana setiap individu terus mengembangkan keahlian dan pengetahuannya melalui pelatihan yang terus menerus dimana setiap orang akan merancang rencana pembelajaran dan karir dimana guru berfungsi sebagai pelatih, konselor, dan pemimpin tim.
  2. Pembelajaran dalam tim dimana tim bekerja sama untuk belajar memecahkan masalah dalam grup dan mengembangkan keahlian refleksi, partisipatif, tujuan yang jelas, komunikasi, penilaian diri sendiri, keragaman gaya, pembagian kekuasaan, dan lingkungan informal yang menyenangkan dengan tujuan yang jelas. Tim terus belajar dari masa lalu dan membagikan ide mengembangkan inovasi baru.
  3. Pembelajaran organisasi dimana organisasi membangun kemampuan untuk menciptakan kesempatan dengan mengidentifikasi kemampuan, permintaan pasar, dan strategi pengembangan kemampuan yang memenuhi permintaan.

Berapa banyak guru yang bekerja sebagai seorang pendidik dan bukan seorang pengajar ?

Seorang pendidik akan berusaha untuk terus mengembangkan diri dalam memahami situasi perkembangan jaman dengan belajar mengenai berbagai metode pendekatan terhadap siswanya. Terjadinya perubahan dalam sistem pendidikan dengan  menggunakan metode pengajaran e-learning hanyalah sebagian hal yang dituntut dalam kategori sebagai organisasi pembelajar. E-learning hanya memenuhi sebagian perubahan lingkungan sejalan dengan perubahan teknologi yang ada saat ini, memang guru bisa diarahkan sebagai fasilitator dan motivator, namun belum sepenuhnya juga bisa menjalankan posisinya sebagai konselor. Share vision belumlah mencapai tujuannya, karena guru-guru  masih belum memiliki apa yang dinamakan pandangan yang sama, karena terpisahnya harapan bersama antara pemilik sekolah, yayasan, orangtua dan lingkungan sosial.

Harapan sekolah sebagai organisasi pembelajar memang masih jauh dari apa yang di harapkan, namun membuka diri dengan sebuah wacana baru merupakan sesuatu yang sangat penting, agar ada perubahan paradigma dan visi yang baru yang akan menggerakkan sistem pendidikan Indonesia berubah kearah yang lebih baik dan dapat diukur. Guru juga sudah seharusnya memiliki kompetensi dasar dalam hal pendagogi, semakin diperlengkapi dalam metode mengajar, kemampuan sebagai konselor, melatih diri untuk mengedepankan siswa sebagai pembelajar, dan yang terpenting mau ikut dalam setiap perubahan yang terjadi. Setelahnya maka semua yang terlibat dalam sistem bisa saling mendukung dan mendorong agar benar-benar tercipta organisasi pembelajar yaitu organisasi dimana setiap individu memiliki perkembangan dan pembelajaran mereka sendiri, dimana organisai mendukung dan menghargai setiap orang untuk belajar, dimana organisasi ini mengembangkan kapasitas belajar untuk menghasilkan kapabilitas yang baru.

REFERENSI

Yukl, G. (2006). Leadership in Organization (7th ed.). New York: Doubleday & Co.
Senge, P., Ross, R., et.al. (1999). The Dance of Change: The Challenges of   Sustaining Momentum in a Learning Organization. New York : Doubleday & Co.
Bass, B.M. (1998). Transformational Leadership: Industrial, Military, and Educational Impact. London: Lawrence Erlbaum Associate Publisher.

http://7691an.wordpress.com/category/pedagogik, last access 2 September 2012.

https://lss.at.ufl.edu, last access 2 September 2012.

http://www.audubon-area.org/NewFiles/sengesum.pdf, last access 2 September 2012

One thought on “Sekolah Sebagai Organisasi Pembelajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s