Inspirasi Jokowi, Kurikulum dan Ajakan berdiskusi

Seminggu sudah saya cukup rajin membuka dan memperhatikan Timeline akun twitter saya, di luar kebiasaan memang. Entah karena waktu saya terasa luang atau saya yang mulai mencuri-curi setiap menit saat bisa mengakses internet terkhusus twitter. Tapi bila saya mempertajam intuisi, kebiasaan ini dimulai saat saya menfollow beberapa nama yang cukup terkenal di bumi Indonesia karena mereka sangat concern terhadap dunia pendidikan. Hampir setiap hari mereka men-tweet hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan Indonesia terkhusus Kurikulum 2013. Dari mulai memuji kurikulum 2013 sebagai kurikulum yang penuh dengan insight karena mencantumkan perkembangan pendidikan karakter jauh lebih besar dari porsi KTSP saat ini, adanya sanjungan terhadap semangat membuat kurikulum yang lebih baik yang menurut mereka dapat membuat siswa indonesia mendapatkan rangkaian kurikulum yang mampu menggali potensi dan membentuk karakter siswa, hingga beberapa nama yang tidak segan-segan mengucapkan sindiran yang sarat dengan sarkasme karena mengganggap kurikulum 2013 sebagai kurikulum yang hanya memenuhi target penguasa yang berwenang untuk mengelontorkan sekian dana demi terlihatnya adanya aktivitas pendidikan Indonesia. Namun tidak pula ketinggalan segolongan orang yang memberi kesan sebagai kelompok abu-abu yang hanya ikut pada arus obrolan untuk sekedar terlihat concern terhadap masalah yang terkadang memihak pihak pro dan terkadang mengeluarkan kata kontra terhadap masalah yang sama. Bagaimana dengan sikap saya sendiri? Sikap apa yang saya ambil ? Bagi saya, sulit rasanya menerima sebuah kenyataan bahwa bangsa saya saat ini sedang mengalami sesuatu yang terlihat kongkrit (kurikulum-red) tapi banyak hal yang abstrak didalamnya. Saya sendiri merupakan seorang pendidik yang sudah berkecimpung dibidang pendidikan dan merasakan perubahan 2 kali kurikulum selama saya menjadi seorang pendidik di Indonesia. Pertama kurikulum 1994, kedua kurikulum 2006, KTSP. Dalam pengamatan saya terhadap diri saya sendiri sebagai seorang guru saya tidak merasakan banyak perbedaan dan perubahan berarti dalam pelaksanaannya. Kompetensi pedagogik saya sebagai guru tidak banyak berubah. Perubahan paling besar yang saya rasakan adalah perubahan saat saya dituntut dan berusaha menggeser kebiasaan menggunakan pendekatan teacher center menjadi student center yang menuntut dan membuat saya belajar bagaimana menekan ego untuk rendah hati memperlengkapi diri dengan berbagai metode belajar yang menjadikan siswa terlibat aktif di dalamnya. Dalam proses menjalankan tugas saya sebagai seorang pendidik, tak kurang komunikasi aktif dengan teman sejawat terus mendorong peningkatan profesionalitas sebagai guru. Namun memang hasil observasi sepintas saya mengatakan banyak para guru yang tidak atau belum memahami paradigma dalam kurikulum KTSP. Dalam menjalankan kurikulum KTSP guru masih tetap mempertahankan kebiasaan-kebiasaan lama mereka dalam mengajar dan /belum mengalami banyak perubahan kompetensi, masih belum memahami nilai-nilai yang ada dalam kurikulum. Nilai dan paradigma kurikulum belum menginternalisiasi dalam diri guru apalagi menginstitusionalisasi. Guru sebagai ujung tombak pendidikan belumlah mengalami impartasi perubahan paradigma tersebut. Lalu apa yang salah? Atau apa yang perlu dilakukan? Adalah cara yang dapat dilakukan agar guru tertolong dan dapat berkecimpung dengan kurikulum atau seperangkat nilai yang tertuang dalam perangkat formal pendidikan dengan tetap mengedepankan esensi guru sebagai seorang pembelajar? Sebelum menjawabnya, saya teringat akan seorang idola baru. Sosok yang tidak akan lepas dari pandangan simpati masyarakat dan mengundang inspirasi. Contohnya saja sosok Jokowi yang setidaknya membuat trend ““blusukan”” sebagai trend yang terlihat lebih merakyat dan lebih membumi. Setidaknya dalam ranah pemikiran saya, “blusukan” tanpa titipan kepentingan politis mendorong pihak yang berwenang mengetahui secara mendasar masalah apa yang sebenarnya terjadi, termasuk dalam permasalahan mengenai kurikulum di Indonesia. Seandainya saja ide “Blusukkan” dilakukan ke sekolah-sekolah, setidaknya akan dapat memberikan input mendasar dalam mengenali keadaan lapangan pemetaan pendidikan di Indonesia. Seandainya saja semua laporan yang ditulis dalam format formal di bandingkan dengan kondisi lapangan hasil “blusukan” pihak yang berwenang yang mengurusi pendidikan di Indonesia saya yakin mereka akan menemukan hal-hal yang akan menarik pemikiran dan kesadaran akan perlunya evaluasi terhadap pelaksanaannnya selama ini. “Blusukan” yang dilakukan ke instansi pendidikan sangat mungkin dapat dilakukan untuk mengidentifikasi hal yang paling mendasar untuk melihat kesenjangan kompetensi para guru. Namun sayangnya banyak hal yang dipikirkan oleh pihak yang berwenang adalah pemikiran yang melangit, tataran utopis. Ingin meluncurkan kurikulum yang luar biasa mulia, mengatasnamakan kebutuhan bangsa namun menutup mata terhadap kesenjangan kompetensi guru sebagai salah satu stake holder didalamnya yang jelas-jelas membutuhkan peningkatan kompetensi. Inspirasi Jokowi ternyata tidak dapat memasuki ranah pemikiran pihak berwenang yang mengurusi pendidikan di Indonesia. Guru lagi-lagi “terpaksa” memahami kurikulum baru tanpa dilihat, dipahami dan dinilai kompetensinya. Model “blusukan” ternyata belum menjadi inspirasi yang baik bagi pemahaman pengenalan analisis masalah mendasar di dunia pendidikan, walau sebagian besar orang menganggukkan kepala dan dalam hati memuji strategi pak Jokowi, “blusukan” untuk mengetahui kondisi Jakarta secara cepat, tanggap, dan tepat sasaran. Guru masih membutuhkan bantuan dalam memperbaiki kompetensinya, para stake holder perlu saling mendukung pelaksanaan pembelajaran di sekolah, pihak yang berwenang perlu “blusukan” ke sekolah untuk mengetahui masalah mendasar dalam pengambilan keputusan mengenai kurikulum 2013. Jikalau peluncuran kurikulum 2013 dianggap merupakan jawaban atas ketidakoptimalan kurikulum KTSP dan menjadi jawaban terhadap kebutuhan bangsa, pertanyaan lanjutannya adalah apakah sudah dilakukan evaluasi terhadap pelaksanaan kurikulum KTSP? sudahkah ada strategi “blusukan” atau strategi-strategi setipe lainnya yang lebih meyakinkan semua pihak bahwa ini sudah dilakukan analisis mendasar sehubungan hal ini. Berpikir dan merancang sesuatu yang utopis untuk diwujudkan sangat baik dan melibatkan semangat membenahi dunia pendidikan, namun bila semua dianalisis tanpa bahan yang kongkrit dan hanya dukungan laporan formal yang belum tentu validitasnya, dan tidak berdasarkan hasil ““blusukan”, pastilah hasilnya jauh dari tepat sasaran. Saya sebagai guru akan terus belajar, seluruh siswa dan masyarakat pun tidak akan berhenti belajar. Pertanyaan yang ada di benak saya, Apakah ini pendidikan karakter yang diajarkan itu? Yang perlu diingat adalah bahwa apa yang dilakukan para pihak yang berwenang terhadap proses kurikulum adalah pembelajaran yang tidak akan terlupakan untuk banyak pihak yang berkecimpung dan terlibat di dunia pendidikan. Sikap untuk terus mendengungkan kebutuhan besar bangsa yang utopis dan mulia tanpa mengumpulkan data evaluasi kurikulum sebelumnya, upaya memasukkan banyak unsur kepentingan-kepentingan semua pihak yang terpolitisasi atas dasar kebutuhan maha penting bangsa, dan membiarkan guru menyelesaikan masalah peningkayan kompetensi dengan memberi ruang terbatas sambil berjalan memahami kurikulum yang akan diluncurkan selanjutnya dengan nama kurikulum 2013, bukanlah sesuatu yang cukup kuat sebagai dasar pengambilan keputusan. Harapan saya, walau tidak lagi original, “blusukan” ke sekolah-sekolah dan instansi pendidikan dan melihat kondisi nyata lapangan merupakan alternatif solusi pemahaman benar terhadap apa yang jadi kebutuhan dasar pendidikan. “Blusukan” bukan hanya milik Bapak Jokowi, tapi milik semua orang yang tidak ingin program-programnya meleset dan tak terbodohi dengan laporan-laporan formal belaka. Sehingga tuduhan bahwa kurikulum 2013 hanya sekedar cara mengelontorkan sekian dana tidak akan terbukti. Rabu, 27 Maret 2012, 9:57

One thought on “Inspirasi Jokowi, Kurikulum dan Ajakan berdiskusi

  1. I like this post so much! The problem you share here is really relevant now and you also propose a really cool solution about “blusukan”. This idea is one of the most creative way to collect the real data about our education system and it really motivate the educators in schools to reflect on what they need to improve for their school and also become meaningful feedback for our curriculum ministers to create appropriate curriculum for the school.
    I myself don’t fully support Curriculum 2013, however KTSP need to change. It is autonomy curriculum with centralized and old content and we should keep the value of autonomy and know things that our students need in 21st century education. Well, blusukan is one of the ways to explore what our students actual need.

    Overall, This is interesting and relevant post!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s