Manajemen Berbasis Sekolah Dalam Kerangka Teori Sistem Niklas Luhmann

deasi2

Sumber:http://www.cianjurcybercity.com

Ketika kita memasuki sebuah kelas, di sana kita akan mendapati semua benda berada di tempatnya masing-masing, maka Anda akan mengatakan: “Betapa rapih dan teraturnya kelas ini, dan saya menyukai situasi ini”.

Keteraturan adalah salah satu hal yang diinginkan oleh sebagian besar manusia, karena keteraturan menunjukkan situasi adanya keadaan yang tidak berantakan, atau terlihat lebih baik dibanding dengan situasi dimana kita melihat keadaan yang berantakan atau tidak teratur.

Manusia dalam dunia ini, atau lebih sempitnya dalam kehidupan di bumi banyak diperhadapkan dengan situsi yang teratur, di mulai dengan keadaan yang digambarkan dalam kitab kejadian, bagaimana ditulis asal muasal terjadinya dunia. Tuhan menunjukkan bahwa dunia tersusun atas sistem yang sangat teratur. Contohnya sistem tata surya yang mengatur semua bagian dalam tata surya sehingga benda langit akan berotasi atau berada pada posisi yang seharusnya. Lebih sempit lagi, bila kita melihat manusia saja, maka manusia terdiri dari begitu banyak sistem, ada sistem pernapasan, sistem pencernaan, sistem metabolisme tubuh dan lain sebagainya, yang semuanya saling mendukung sehingga manusia bisa menjalankan keberadaan dirinya sebagai manusia secara fisik, karena keseluruhan sistem dirinya berjalan dengan baik.

Bila kita bahas lebih dekat kehidupan ini memang terdiri dari banyak sistem. Sistem akan mengatur berbagai banyak hal dalam hubungan sosial sejalan dengan usaha pemenuhan manusia terhadap kebutuhannya. Salah satu kebutuhan manusia menurut  Maslow adalah kebutuhan kognitif dalam proses aktualisasi diri. Pengetahuan menjadi prasyarat untuk mengaktualisasikan diri karena jumlah pengetahuan sangat penting untuk mendorong manusia mengembangkan potensi dan perencanaan hidup. Manusia membutuhkan suatu kondisi pengakuan hakiki akan keberadaan  dirinya dalam kelompok atau masyarakat dimana dia berada, untuk menunjukkan eksistensinya. Salah satu kebutuhan manusia agar bisa mengaktualisasikan diri adalah melalui kebutuhan untuk mendapatkan pendidikan. Pendidikan dianggap penting bagi pengembangan rasionalitas, intelektualitas bahkan moralitas manusia itu sendiri agar bisa menjadi manusia yang benar-benar manusia sesungguhnya.

Keteraturan pendidikan saat ini diatur dalam suatu sistem manajemen yang dikenal dengan istilah manajemen berbasis sekolah, pada tulisan ini akan dibahas bagaimana Manajemen Berbasis Sekolah tidak jauh dengan pemahaman sebuah sistem yang mengatur bagian-bagian yang ada didalamnya, sehingga membentuk keteraturan yang akan sangat berati bagi kehidupan manusia, seperti yang dikatakan tadi, yaitu kondisi yang mengarah kepada pembentukan manusia sebagai manusia yang sesungguhnya. Disini akan dikaji bagaimana Manajemen berbasis sekolah dalam kerangka Teori sistem Niklas Luhman. Bagaimana sebuah sistem manajemen dalam sekolah di analisis dalam kerangta teori sistem.

Teori sistem Niklas Luhmann merupakan teori sistem yang mengkritisi teori sistem Talcott Parson yang merupakan gurunya sendiri. Kata sistem berasal dari bahasa latin (systema) dan  bahasa  Yunani (sustema), yang memiliki pengertian sebagai suatu keseluruhan dalam arti kesatuan yang lebih dari pada sekedar jumlah bagian-bagiannya, suatu jumlah unsur-unsur dan juga hubungan-hubungan di antara mereka satu sama lain. Untuk membentuk suatu keseluruhan yang teratur, di dalamnya terjadi seleksi, relasi dan kontrol atas unsur-unsur pembentuknya. Secara umum bisa dikatakan bahwa bagian-bagian dalam sistem akan saling berpengaruh satu sama lainnya, semua bagian akan memberikan kontribusi bagi keberlangsungan sistem itu sendiri, dalam makna sebagai sejumlah bagian yang berkomposisi dan saling  terkoneksi, maka bisa disebut sebagai kompleks.

Sebelum membahas lebih lanjut alangkah baiknya bila kita mengingat konsep dunia (Welt),dan lingkungan (Umwelt), karena bila bicara sistem maka   kedua tersebut sangat berkaitan erat. Sistem tidak dapat  membentuk dirinya sendiri dengan membedakan diri (self- diferentiation) dari lingkungannya. Sistem terbentuk karena memanfaatkan material dari lingkungannya. Ini berarti bahwa lingkungan yang kompleks atau chaos mencirikan ketidakteraturan. Keadaan chaos dalam lingkungan inilah yang akan dimanfaatkan sebagai material sebuah sistem, karena sistem merupakan hasil reduksi kompleksitas lingkungannya.

Kompleksitas selalu membutuhkan pemilahan untuk dapat dimengerti, dan pemilahan seringkali menciptakan reduksi. Yang dimaksud reduksi adalah reduksi kompleksitas melalui pembedaan, yakni pembedaan antara sistem di satu sisi dan lingkungan di sisi lain. Luhman menyebut pembedaan ini dengan istilah ‘pembedaan  antara sistem dan lingkungan’. Pembedaan ini sangat penting diberi penekanan, karena tanpanya, tidak ada yang disebut sistem yang berciri khusus, yang ada hanyalah kekacaua

Dengan demikian, kemampuan untuk mereduksi kompleksitas dapat juga dianggap sebagai mekanisme perlindungan dari sistem tersebut. Reduksi juga memungkinkan sistem untuk mengatur dimensi internalnya sendiri, sehingga kompleksitas yang tidak tertata dapat diubah menjadi kompleksitas yang tertata. Seperti sudah disinggung sebelumnya, kompleksitas membutuhkan pemilahan, dan pemilahan tentu menyediakan kemungkinan-kemungkinan pembedaan, dan kemungkinan itu tentunya mengandaikan adanya resiko. Kompleksitas tidak pernah sungguh dapat diamati dan dipilah-pilah. Setiap upaya memahami kompleksitas sudah selalu mengikutsertakan proses reduksi, yakni mengubah kompleksitas yang tidak terorganisir menjadi teorganisir. Dari penjelasan ini dapat disimpulkan bahwa  sistem bisa kompleks tapi pasti tidak lebih kompleks daripada lingkungannya.

Selain konsep di atas, Teori sistem Niklas Luhmann identik dengan istilah autopoiesis ,ia mengatakan bahwa setiap sistem memiliki ciri yang bersifat autopoiesis. Autopoiesis secara etimologis terbentuk dari kata autos (sendiri) dan poiein (membuat), bila digabungan artinya “menciptakan diri” atau “menghasilkan diri”. Ini berari bahwa tujuan sistem adalah dirinya sendiri (berciri self refetial). Inilah salah satu alasan mengapa sebuah sistem sosial menurut Luhmann tidak ambruk ketika terjadi konflik dan perubahan, karena pada saat fungsi-fungsi yang ada di dalam sistem terganggu, maka fungsi bagian – bagian tersebut akan digantikan atau dibuat dari dalam sistem itu sendiri sehingga keberadaan sistem sosial tetap terjaga. Keberadaan sistem yang terus terjaga didukung dengan adanya komunikasi yang berlangsung terus menerus antara sistem dengan sistem-sistem atau sistem dengan lingkungannya. Proses komunikasi dalam pembentukan dan keberadaan sistem membutuhkan bahasa. Dalam arti ini, bahasa adalah titik tolak bagi refleksi tentang sistem.

Sistem secara luas digunakan dalam ilmu . Analisis sistem pada konteks  didasarkan atas penentuan informasi  terperinci yang dihasilkan setahap  demi setahap dari proses. Sehingga keluar pengetahuan tentang bagaimana sistem bekerja agar memenuhi kebutuhan yang telah ditentukan, dimana jumlah output yang spesifik ditetapkan, serta kriteria jalannya sistem agar mencapai optimalisasi.

Sistem manajemen berbasis sekolah adalah model  yang memberikan otonomi lebih besar kepada sekolah dan mendorong pengambilan keputusan partisipatif yang melibatkan secara langsung semua komponen sekolah, yaitu guru, siswa, kepala sekolah, karyawan, orangtua siswa, dan masyarakat, untuk meningkatkan mutu sekolah berdasarkan kebijakan pendidikan nasional.  Sistem manajemen berbasis sekolah menekankan kepada otonomi yang besar, karena memberi kebebasan sekolah dalam menjalankan kewenangan yang lebih besar dalam pengelolaan sekolah, sehingga hasil akhir yang dapat dicapai adalah sekolah dapat lebih mandiri. Dengan kemandiriannya sekolah lebih berdaya dalam mengembangkan program-program, yaitu dengan pengambilan program melalui keputusan  semua warga sekolah. Hal ini agar tercipta peningkatan rasa memiliki yang akan menumbuhkan peningkatan rasa tanggung jawab dan dedikasi warga sekolah terhadap sekolahnya.

Secara rinci  berbasis sekolah  bertujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian dan inisiatif sekolah dalam mengelola dan memberdayakan sumber daya yang tersedia, meningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam penyelenggaraan melalui pengambilan keputusan bersama, meningkatkan tanggung jawab kepada sekolah, orang tua, masyarakat, dan pemerintah dalam penyelenggaraan program sekolah, meningkatkan kompetensi yang sehat antar sekolah tentang mutu sekolah yang akan dicapai.

Sistem manajemen berbasis sekolah menginginkan adanya peningkatan mutu pendidikan yaitu kemampuan sistem pendidikan secara manajerial maupun teknis profesional, untuk meningkatkan kemampuan belajar. Pendidikan dinyatakan sudah bermutu apabila seluruh  peserta didik yang mengikuti suatu satuan program pendidikan pada jenis dan jenjang tertentu mencapai standar yang telah ditetapkan untuk satuan program tersebut.

Karakteristik  berbasis sekolah merupakan sebuah sistem yang mendasarkan pada input, proses, dan output. Input meliputi sumber daya manusia (kepala sekolah, guru, siswa, staff ) dan sumberdaya selebihnya (peralatan, perlengkapan, dan berbagai fasilitas penunjang lainnya). Input perangkat lunak meliputi struktur organisasi sekolah, harapan-harapan yang tertuang dalam visi dan misi sekolah.

Konsep  berbasis sekolah dilahirkan karena adanya kompleksitas penyelenggaraan pendidikan yang penuh dengan birokrasi sentalistik,  sehingga menempatkan sekolah sebagai penyelengaraan pedidikan yang sangat bergantung pada keputusan birokrasi yang mempunyai jalur yang sangat panjang dan kadang-kadang kebijakan yang dikeluarkan tidak sesuai dengan kondisi sekolah setempat.  Kompleksitas yang sangat rumit mengenai keberadaan birokratis penyelenggaraan pendidikan nasional direduksi melalui  berbasis sekolah dengan harapan sistem yang terbentuk ini dapat memunculkan otonomi yang lebih bermakna bagi pendidikan itu sendiri. Dengan otonomi sekolah sekolah diharapkan akan terbentuk sistem yang lebih mampu mempertahankan cirinya sesuai dengan kondisi riil yang unik, yang berbeda dengan lingkungannya, yang tentunya kompleksitasnya akan lebih tereduksi sehingga sistem yang terbentuk tidak akan melewati kompleksitas dari lingkungannya, atau dengan kata lain sistem akan lebih sederhana dibandingkan dengan lingkungannya. Berdasarkan kenyataan ini menunjukkan bahwa sistem  berbasis sekolah merupakan bentuk perbaikan  peningkatan mutu berbasis pusat menuju  berbasis sekolah.

Otonomi sekolah memberi kebebasan sekolah mandiri dengan kepemimpinan seorang pemimpin yang berwibawa dan mampu melakukan koordinasi semua komponen sekolah baik tenaga teknis edukatif maupun administratif dengan tidak melupakan unsur kontrol dan supervisi. Kemandirian juga harus di dukung oleh sejumlah kemampuan mengambil keputusan-keputusan yang terbaik, kemampuan berdemokrasi menghargai perbedaan pendapat, kemampuan mobilisasi sumberdaya, kemampuan memilih cara pelaksanaan yang terbaik, kemampuan berkomunikasi dengan cara  yang efektif,  kemampuan memecahkan persoalan-persoalan sekolah, kemampuan bersinergi dan berkolaborasi, dan yang terpenting kemampuan untuk dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhannya sendiri.

Memahami  manajemen berbasis sekolah, tentu saja tidak terlepas dengan keterlibatan yayasan, bila kita bicara mengenai sekolah swasta yang berusaha menerapkan  berbasis sekolah. Yayasan juga merupakan bagian dari sistem, yang memberikan kontribusi besar bagi keberlangsungan  penyelenggaraan sekolah. Yayasan memiliki visi dan misi yang diteruskan melalui sekolah untuk dihidupi oleh semua bagian dari sistem untuk dihidupi, karena setiap organisasi memiliki tujuan yang menghidupi keseluruhan bagian atau elemennya, semua elemen akan berkinerja supaya kolaborasi yang tercipta dapat menghasilkan tercapainya tujuan yang sudah ditetapkan tersebut.

Visi dan misi sekolah akan tercapai pertama-tama tentu saja dengan kepemimpinan kepala sekolah yang berusaha untuk mengkoordinasikan, menggerakkan, dan menyerasikan keseluruhan elemen sumber daya pendidikan yang tersedia. Kepemimpinan kepala sekolah merupakan syarat yang dapat mendorong sekolah agar dapat mewujudkan visi, misi, tujuan dan sasaran sekolah melalui program-program yang dilaksanakan secara terencana dan bertahap. Oleh karena itu kepala sekolah dituntut memiliki kemampuan  dan kepemimpinan yang tangguh agar mampu mengambil keputusan dan prakarsa untuk meningkatkan mutu sekolah, terutama sumber daya manusia unuk mencapai tujuan sekolah.

Sekolah yang menerapkan  berbasis sekolah memiliki input menejemen yang memadai untuk menjalankan roda sekolah, Kepala sekolah dapat mengatur dan mengurus sekolahnya menggunakan sejumlah input . Kelengkapan dan kejelasan input  akan membantu kepala sekolah mengelola sekolahnya secara baik dan efektif. Input  yang dimaksud dapat meliputi tugas yang jelas, rencana yang rinci dan sistematis, program yang mendukung bagi pelaksanaan rencana, ketentuan-ketentuan  yang jelas bagi warga sekolahnya untuk bertindak, dan adanya pengendalian yang efektif dan efisien untuk memastikan dan meyakinkan agar sasaran yang telah disepakati dapat tercapai.

Dalam paper ini, dari beberapa elemen sistem, penulis akan lebih banyak menekankan pembahasan pada pengolahan tenaga kependidikan yang efektif dalam tenaga kependidikan, yaitu guru yang menurut saya adalah jiwa dari sebuah sekolah. Sekolah hanyalah berupa wadah. Sekolah yang menggunakan  berbasis sekolah amat sangat menyadari hal ini, karena itu pengelolaan tenaga guru mulai dari analisis kebutuhan, perencanaan, pengembangan, evaluasi kinerja, hubungan kerja, hingga sampai pada imbal jasa merupakan garapan yang penting bagi seorang kepala sekolah dan tentu saja yayasan sebagai pihak yang turut bagaian dalam menerapkan aturan-aturan.

Pengembangan tenaga kependidikan ini harus dilakukan secara terus menerus mengingat perkembangan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi sedemikian pesat. Hasil harus diikuti dengan penghargaan (reward) dan sanksi (punisment), kolaborasi yang sinergi, harus merupakan basis sebagai landasan kerjasama, sehingga warga sekolah, dalam hal ini guru akan merasa aman terhadap pekerjaannya, terasanya atmosfer keadilan harus ditanamkan, kenyataan adanya imbal jasa yang harus sepadan dengan nilai pekerjaannya, dan di atas semuanya guru harus merasa memiliki sekolah.

Seorang guru dalam sebuah sistem  berbasis sekolah akan memiliki peranan besar yang memberikan kontribusi bagi penyelenggaraan sekolah. Bagi yayasan atau kepala sekolah seorang guru haruslah memahami visi dan misi sekolah, sebagai sebuah roh yang menghidupi kinerjanya dalam melakukan proses kegitan belajar mengajar di kelas. Seorang guru harus bisa diperhadapkan akan pentingnya pemahaman dasar bahwa visi dan misi sekolah akan membawanya kepada tujuan yang ditetapkan sebagai tolak ukur keberhasilan sekolah. Sekolah yang memiliki visi dan misi akan menuntut seorang guru agar bertindak sesuai dengan ketetapan aturan yang dibuat. Selain itu kompetensi yang ditetapkan sebagai standar pun harus dimiliki seorang guru, kompetensi dalam bidang ilmu, kompetensi dalam pengerjaan administrasi sekolah,  kompetensi dalam team work, kompetensi dalam pengelolaan kelas, pemahaman atas karakteristik siswa, kompetensi dalam membangun struktur atribusi kesuksesan siswa, dan kompetensi-kompetensi lainnya.  Guru harus dapat menjalankan tugas dan  fungsinya dengan baik dalam sistem yang ada. Kinerja guru akan melalui sebuah tahapan evaluasi, melalui supervisi kelas dan penilaian kinerja, yang kesemuanya diatur dalam aturan tertulis. Misalnya kepala sekolah melalui bidang kurikulum akan memantau guru dengan supervisi terbuka, menilai administratif seperti rancangan pembelajaran, menilai sejauhmana keberhasilan siswa yang mengalami proses belajar mengajar dengan gurunya, sejauhmana seorang guru menghidupi visi dan misi sekolah, sejauhmana guru menjalankan aturan-aturan yang sudah ditetapkan.

Dalam  berbasis sekolah guru perlu memiliki motivasi dan kesadaran penuh mau melaksanakan kinerjanya dalam proses belajar mengajar dengan sasaran peningkatan mutu pendidikan siswa. Unsur teknis edukatif dan disiplin guru membutuhkan pengawasan dan bimbingan yang berkesinambungan. Bila  ada evaluasi berarti ada sistem penyeleksian, guru yang mendapatkan penilaian atas dirinya yang baik, maka ia akan terus menjadi bagian dari sekolah, namun bila tidak maka ia harus bersiap untuk tidak menjadi bagian dari  sekolah. Bila kita hubungan dengan teori sistem Talcott  Parson, maka seandainya kita andaikan adanya ketiadaan berjalannya fungsi seorang guru yang seharusnya mendukung bagian yang lainnya dari sebuah sekolah maka bisa dikatakan sistem akan terganggu dan rusak, bahkan bisa hancur, karena Parson melihat sistem sebagai struktural fungsional. Namun lain dengan Luhman, menurut teori sistem yang dikemukakannya, setiap bagian dari sistem memiliki kemampuan autopoiesis, kemampuan untuk menciptakan diri, kemampuan untuk menghasilkan diri. Kemampuan ini yang menyebabkan sistem tidak akan ambruk, karena bagian yang tidak bisa menjalankan fungsinya akan berusaha menciptakan dirinya dari dalam sistem itu agar keberadaan sistem itu tetap terjaga dengan baik. Keadaan seorang guru bila belum memenuhi tuntutan yang diberikan sekolah seperti yang sudah diuraikan sebelumnya akan membuat guru lebih berusaha dalam menggali  potensi yang dimilikinya. Kita ambil contoh, bila ada seorang guru yang terkena evaluasi, dan hasilnya kurang baik kinerjanya, maka ia akan berusaha memperbaiki diri, mempertahankan dirinya, bila masih ingin berada dalam sistem  sekolah. Sering dijumpai guru yang berusaha lebih banyak belajar mengenai bahasa Inggris, sekolah mengambil S2, meningkatkan metode belajar dengan mengikuti training-training dan seminar, atau bahkan mungkin memiliki mentor khusus yang akan mengajarinya banyak hal berkaitan dengan perbaikan kinerja sesuai dengan tugasnya, agar ia mampu menjadi lebih baik dan tetap menjaga keseimbangan dari sebuah sistem. Seorang guru sebagai pengajar di sekolah akan berusaha memenuhi kebutuhan sekolah, memenuhi harapan yayasan, harapan orangtua sebagai bagian dari komunikasi sekolah juga. Dalam teori sistem Niklas Luhmann Autopoiesis akan selalu ada dalam sebuah kerangka sistem, karena dengan autopoiesis inilah sebuah sistem akan terus bertahan dan mampu mempertahankan dirinya, tidak rusak dan ambruk bila ada bagian yang tidak berfungsi, namun akan mengalami penciptaan diri agar sistem akan tetap stabil.

Bicara mengenai sebuah sistem tentulah akan bicara mengenai keterhubungan bagian-bagiannya, keterhubungan itu terbentuk  dan menjadi sebuah sistem karena adanya komunikasi antar elemen di dalamnya. Teori sistem berpendapat bahwa pada tahapan komunikasi suatu sistem tidak dapat bergerak dan beroperasi di luar batas-batasnya sendiri. Luhman memandang bahwa komunikasi merupakan elemen utama yang memungkinkan adanya sistem. Pemahaman ini, bila di pakai dalam sistem  sekolah maka bisa dikatakan bahwa komunikasi adalah bagian yang sangat penting yang wajib ada dalam sebuah sistem.

Keterbukaan atau transparansi dalam pengelolaan sekolah merupakan karakteristik sekolah yang menerapkan  berbasis sekolah. Harus ada komunikasi yang baik antara guru dengan pihak kepala sekolah atau yayasan, agar bila ada pengambilan keputusan, seorang guru juga berhak untuk menerima penjelasan. Apabila seorang guru mengalami kesulitan atau kendala, maka sebelum ada keputusan yang diambil maka, kepala sekolah semestinya akan memberitahukan guru tersebut dengan peringatan yang sudah diatur dalam perangkat aturan sekolah sebagai bagian dari  sekolah. Sekolah berhak dalam memutuskan hubungan kerja dengan guru, namun harus melalui tahapan komunikasi yang baik terlebih dahulu, agar guru bisa mengetahui kekuranganya dan berusaha untuk memperbaiki diri. Proses komunikasi juga melibatkan makna yang bersifat outopoiesis. Komunikasi yang terbangun akan menjadikan keterhubungan bagian-bagian menjadi sebuah tatanan yang menimbulkan makna  dan sebuah gerak yang niscaya yang membentuk sistem. Proses komunikasi dalam sistem  sekolah haruslah dilihat secara holistik, karena bicara mengenai  berbasis sekolah akan bicara keseluruhannya.

Sekolah yang menerapkan  manajemen berbasis sekolah memiliki karateristik bahwa partisipasi warga masyarakat merupakan bagian dari kehidupannya. Hal ini dilandasi oleh keyakinan bahwa makin tinggi tingkat partisipasi, maka makin tinggi atau besar rasa memiliki, makin besar rasa memiliki, makin besar pula tanggung jawab, dan bila tanggungjawab semakin meningkat maka semakin besar pula dedikasinya. Esensi yang terjalin adalah terbentuknya intensitas   hubungan bagian-bagiannya. dari penjelasan ini bisa dikatakan bahwa komunikasi merupakan elemen utama pembentuk sistem manajemen sekolah. Dengan adanya komunikasi ini diharapkan output yang  dihasilkan menunjukkan kualitas yang baik dan bermutu tinggi.

Daftar Referensi

Dr. Budi F. Hardiman, Jurnal Filsafat Driyarkara Tahun XX1X, no. 3/2008

Drs. Nurkolish, M.M, 2007.  Berbasis Sekolah, Jakarta : Grasindo.

Dedi Supriadi, , 1999. Mengangat Citra dan Martabat guru, Jakarta : Adi Citra Karya Nusa.

2 thoughts on “Manajemen Berbasis Sekolah Dalam Kerangka Teori Sistem Niklas Luhmann

  1. This is one of the greatest exploration of school based management. You shares a deep thinking process from theory into implementation of this system. Such a relevant topics for every schools to learn. The input for this post I think you should simplify some points to make it more understandable and clearer and you could give specific examples to give concrete experiences for the readers. Overall, very well done!

  2. Satu-satunya alasan sistem adalah kontrol, sebab kontrol merupakan aktualisasi yang paling hakiki dari kekuasaan. Atribut lainnya, relasi, interaksi dan eksistensi benda-bendanya hanya “sekrup” yang digunakan untuk melengkapi dan memperlancar berlangsungnya kekuasaan. Oleh sebab bicara kekuasaan, maka hal lain yang sangat penting adalah si pelaku kekuasaan, dalam hal ini Guru, Kepala Sekolah, Ketua Yayasan?! Atau mungkin pada level tertinggi adalah si pembuat kebijakan, khususnya pembuat kebijakan dalam dunia pendidikan. Penguasa. Pejabat Negara
    Saya tidak tahu, sudah sejujur dan sesolid apa pihak-pihak terkait “penguasa pendidikan” ini mengerjakan setiap sistem yang berlaku di dunia pendidikan selama ini dihadapan realitas sosial bangsa. Saya hanya menemukan inkonsistensi pada hampir semua lini (“sekrup”). Jika ada yang ideal dan komit, maka mereka adalah aktor yang paling menderita dan depresi menyaksikan carut-marut pendidikan di Indonesia. Tapi tetap saja, peer terpenting yang menahun dan tak kunjung tuntas adalah bagaimana mencerdaskan anak bangsa secara merata? Sehebat apapun penguasanya dan sebaik apapun sistemnya, tetapi jika hanya dikecap sebagian “pelajar beruntung”, tetap akan sama saja. Maaf, agak menyimpang dari konteks.. BAgaimanapun, saya tetap mengagumi tulisan Kaka. Am proud of you, sist. ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s