(Menjelang) GURU ABAD 21

ETech

Sumber : http://www.brushschools.org/2010-brush-etil-assessments

Sudah sering kita mendengar  bahwa guru Indonesia harus mau berubah dan belajar untuk mampu menyiapkan generasi penerus bangsa agar mampu bersaing di dunia kerja, sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman. Kondisi ini mendesak para guru harus mampu menguasai beberapa hal yang berkaitan dengan tuntutan perkembangan yang terjadi di abad 21, antara lain pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) untuk sumber belajar dan mengembangkan pembelajaran yang membuat siswa mampu memecahkan masalah, berpikir kritis, kreatif, dan berkomunikasi dengan baik.

Namun dalam kenyataannya belum semua guru menyadari pentingnya untuk terus mau belajar  mengusahakan diri untuk terus mau mengembangkan diri. Banyak guru yang masih berkutat dengan metode yang itu-itu saja dan belum mengembangkan pembelajaran yang kreatif. Ada beberapa hal yang membuat guru terkadang stay di zonanya saat ini, yaitu keengganan untuk mau berubah dengan berbagai alasan seperti :

  1. Sudah lama berkecimpung di dunia pendidikan sehingga sudah cukup pengalaman dan sudah banyak strategi pembelajaran yang dapat dipakai, padahal mungkin metode dan strategi pembelajaran  yang digunakan sudah usang dan perlu berubah.
  2. Sudah tidak muda lagi sehingga tidak punya cukup waktu untuk mengembangkan diri seiring dengan fokus kepada keluarga dan mencari tambahan diluar pendapatan rutin.
  3. Pembelajaran yang kreatif sulit dilakukan karena kultur belajar yang baik dapat dilakukan pada siswa yang punya kesadaran tinggi untuk belajar, sementara untuk siswa yang pas-pas an amat sangat sulit untuk menciptakan pembelajaran yang kreatif dan merangsang keterampilan berpikir kritis.

Seluruh alasan di atas mungkin tidak sepenuhnya salah. Adalah sebuah kenyataan bahwa pengalaman mengajar bertahun-tahun bahkan puluhan tahun membuat guru memiliki banyak pengalaman berharga dalam mengembangkan kompetensi mengajarnya. Tentulah guru yang mengajar dua tahun atau empat tahun akan berbeda pengalamannya dengan guru yang sudah puluhan tahun.

Dari sisi pengusaaan content bahan ajar mungkin guru yang puluhan tahun akan menguasai bahan ajar yang lebih baik, namun guru yang dua atau empat tahun mengajar bisa jadi tidak kalah dalam mengembangkan diri melalui pembelajaran yang inovatif karena dalam proses belajar guru berusaha menghadirkan ide-ide baru dalam pengembangan metode belajar dengan lebih menguasai  dalam penerapan teknologi informasi dan komunikasi. Rasa sungkan mengakui bahwa kita perlu terus belajar adalah suatu tembok penghalang yang terlihat sebagai arogansi pribadi dalam mencetuskan pengakuan bahwa guru (tanpa terkecuali) harus terus mau belajar.

Alasan kedua, bahwa kita tidak punya waktu  untuk mengembangkan diri terkadang berpusat karena kita kurang gigih dalam usaha menguasai passion dalam mengajar. Hasrat berprestasi sudah mulai surut karena fokus hidup kepada keluarga sudah cukup menyita pikiran kita. Dalam beberapa teori motivasi mengkatakan bahwa ketahanan diri dalam meraih sesuatu dipengaruhi oleh motivasi instrinsik dalam diri yang pada akhirnya akan menyeleksi kesungguhan manusia untuk terus berusaha mencapai yang diinginkan. Kalau begitu, hal yang penting adalah motivasi diri kita. Bila kita memiliki motivasi yang kuat untuk mau belajar dan menjadi guru yang terus mau belajar maka semua alasan-alasan yang menghalangi bukan lah menjadi alasan permanen😀. Belajar untuk tetap  update mengenai perkembangan teknologi sebagai penunjang pembelajaran mutlak diperlukan. Ini dapat kita peroleh melalui pelatihan atau melalui hal yang sederhana seperti sharing knowledge dengan rekan kerja yang memiliki ilmu teknologi informasi dan komunikasi.

Alasan ketiga, anggapan bahwa kultur belajar yang baik dapat dilakukan pada siswa yang punya kesadaran tinggi untuk menjadi lebih baik, sementara untuk siswa yang pas-pas an amat sangat sulit untuk menciptakan pembelajaran yang kreatif bukanlah alasan yang seutuhnya tepat, karena pada akhirnya guru adalah manager bagi kelas yang diampu. Bukankah bila guru menyadari posisi ini dengan baik, maka guru akan berusaha get attention siswanya sehingga siswa akan mengikuti arahan yang guru berikan? Hal ini memanglah tidak mudah, namun dapat menjadi tantangan bagi guru untuk terus menciptakan kesempatan bagi dirinya sendiri untuk bagaimana membuat siswa tertarik dengan apa yang diajarkan baik yang berkaitan dengan materi maupun soft skill yang sekiranya dibutuhkan oleh siswa.

Satu pertanyaan reflektif  adalah apakah kita mau menjadi guru abad 21? Siap mengambil konsekuensi-konsekuensi goals yang kita tetapkan bagi diri kita sendiri. Tantangan abad 21 ada di depan mata para siswa kita, dan didepan mata kita pulalah tuntutan menjadi guru abad 21 suatu hal yang tidak terhindarkan.  Itu berarti bahwa bahwa guru perlu terus belajar mengenai pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) untuk menciptakan siswa didik yang dapat bersaing di era teknologi dan informasi saat ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s