Semangat Menembus Keterbatasan (Perjuangan PAUD Melati)

cbs2

Sumber : Dokumentasi Pribadi

Minggu pagi tanggal 28 April 2013, saya mempersiapkan diri dengan bangun pagi, karena hari ini adalah hari pertama saya akan menuju ke PAUD Melati (Pendidikan Anak Usia Dini ) di daerah Pisangan Timur. Seminggu ini pekerjaan rutin sebagai guru cukup banyak dan badan masih terasa letih, tapi tidaklah menyurutkan niat saya memenuhi janji untuk sharing knowledge bersama guru-guru yang ada PAUD Melati. Dengan Bus Trans Jakarta akhirnya saya bisa sampai di Lokasi dan sudah ada Bang Charles Bonar Sirait, Ruli Tobing (professional dari Unilever) yang sudah berkumpul bersama Mama Eka dan guru-guru, bersenda  gurau dengan kehangatan dan sangat terasa sekali suasana kekeluargaannya.

Kali ini pertama bagi saya bertemu dengan Mama Eka pemimpin PAUD Melati. Wanita paruh baya ini yang berinisiatif mendirikan PAUD dengan segala keterbatasan yang dimiliki. Bayangkan saja hanya dengan modal uang arisan 900.000 dia mewujudkan mimpinya dengan memperlengkapi rumahnya dengan peralatan sederhana agar rumahnya mendekati gambaran sebuah sekolah. Ruang yang sangat sempit, papan tulis yang sederhana, bangku-bangku tempat duduk siswa yang sederhana semua membuat hati saya terharu. Bagaimana tidak, kondisi minimalis yang saya lihat tidak menyurutkan sedikitpun niat Mama Eka dan para guru untuk berjuang mencerdaskan anak bangsa yang ada di sekitar tempat tinggalnya untuk mengenyam pendidikan usia dini. Jangan tanya soal perangkat pembelajaran yang baik, alat peraga dan pinsil warna yang dimiliki siswapun seadanya. Dengan jujur salah satu guru berujar “kami menerima sumbangan pinsil warna, walau kondisinya sudah patah, sekiranya masih bisa dipakai kami akan terima “. Saya yang melankolis, hanya bisa terdiam.

Di sana saya membagikan pengalaman saya sebagai guru yang sudah mengajar 12 tahun lamanya. Mereka menyimak sharing dan penjelasan saya. Sunguh saya terharu, bagaimana tidak mereka bertanya mengenai bagaimana mengajar yang baik, bagaimana menanamkan karakter anak, meski di sela-sela pembicaraan mereka saya menangkap bahwa mereka mengeluh soal keterbatasan alat peraga, sehingga kurang masksimal dalam memberikan pengajaran di kelas.  Selain itu, saya juga membagikan knowledge bahwa kemampuan guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dalam mendidik anak sangat mempengaruhi karakter siswa, anak-anak yang duduk di PAUD/TK cenderung meniru terhadap apa yang dilihat dan didengar dan otak mereka harus dirangsang agar potensi yang dimiliki siswa dapat dioptimalkan. Makanya seorang guru PAUD harus mampu memahami proses perkembangan anak didiknya, usia anak yang masuk PAUD adalah usia emas untuk menyerap berbagai informasi dan dasar peletakan awal pembentukan kepribadian.

Tak terasa waktu yang diberikan untuk sharing habis, namun mereka tetap mengajukan pertanyaan-pertanyaan berkaitan dengan keterampilan dan pengetahuan yang wajib dimiliki seorang guru PAUD. Akhirnya saya berjanji mengirimkan beberapa buku bekas (buku kuliah) yang masih baik yang berkaitan dengan Psikologi Perkembangan. Saya berpikir daripada buku-buku itu hanya ada di lemari saya, bila dibaca para guru pengasuh PAUD akan memperkaya wawasan mereka, dan mampu menjadi berkat. Berkat itu pun akan terus mengalir melalui pengetahuan baru mereka untuk mengelola siswa-siswa mereka.

Beberapa Highligt yang saya peroleh dalam Kunjungan saya ke PAUD Melati adalah :

1.   Sebuah tekad luhur seorang yang ingin berbagi tidaklah surut dengan adanya keterbatasan. Dengan sebuah semangat Mama Eka dan beberapa Guru yang terlibat berusaha memberikan apa yang mereka punya dengan segala keterbatasan, dengan hati dan Jiwa yang besar. Dari perbincangan saya tahu mereka tidak digaji, bila ada uang hasil kerelaan orang tua mereka menerima walau hanya 100.000 sebulan, itupun kalau ada, kalau tidak ada mereka yakin Tuhan yang bayar di akhirat nanti.

2.  Memiliki hati dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan bukanlah semata tugas pemerintah saja, tapi tugas masyarakat Indonesia. Tidak perlu menunggu lama, apa yang bisa kita berikan, bisa dimulai dengan tindakan sederhana yang akan berdampak bagi orang banyak.

3.         Kondisi sederhana PAUD Melati merupakan gambaran bahwa ini hanya sekelumit bagian masalah pendidikan di Indonesia. Masih banyak tempat-tempat yang membutuhkan bantuan dana, sharing knowledge, bantuan desain kurikulum, dan pengembangan kompetensi guru untuk menambah wawasan guru, atau mungkin  perhatian-perhatian kecil dengan memberi bantuan buku-buku, alat-alat tulis atau alat peraga.

4.  Gerakan @kembaliksekolah merupakan wadah yang dapat menfasilitasi relawan-relawan yang  ingin berbagi untuk memberi kontribusi bagi bangsa dalam dunia pendidikan. Saya percaya hal yang kecil sekalipun bila dikerjakan dengan hati yang tulus, pasti akan membawa sebuah perubahan.  Hingga pada akhirnya kita tidak bisa menduga bahwa tindakan kecil hari ini yang kita lakukan bisa menimbulkan perubahan besar dikemudian hari.  Maukah kita terlibat dan membantu memberi kontribusi bagi peningkatan kualitas pendidikan ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s