Refleksi Tak Akan Pernah Cukup (Di Hari Pendidikan Nasional)

Image

Hari ini Pukul 10 pagi, waktu break kesatu untuk beristirahat setelah mengajar selama 2 sesi hari ini. Menyerumput hot tea di depan Komputer  di ruangan 423 (ruangan  kelas Sosiologi) akan menjadi sangat asik, apalagi setelah ini tidak ada sesi mengajar lagi, maklum siswa kelas 12 telah selesai Ujian Nasional dan sedang ada acara magang di perusahaan-perusahaan sehingga jadwal sesi mengajar kelas 12 dapat digunakan untuk mengerjakan administrasi sekolah dan punya waktu  berefleksi hati.

Pagi ini saya memanggil beberapa siswa, istilahnya student at risk, mereka beresiko tidak naik kelas karena  ada nilai akademiknya yang di bawah batas normal (dibawah KKM) dan ada yang secara nilai berkategori baik namun secara sikap di kelas belumlah memenuhi harapan guru seperti sering berisik, terkesan malas, daya juang rendah dan kurang berkonsentrasi di kelas. Kondisi mereka menarik perhatian karena sebagai wali kelas tentulah saya menjadi pribadi yang akan dimintai pertangungjawaban mengenai perkembangan mereka baik oleh pihak administrator sekolah maupun orangtua.

Pagi ini saya kembali membuat murid menangis, hanya dengan beberapa pertanyaan mengenai nilai  dan sikap mereka di kelas membawa mereka merefleksikan hasil kerja mereka selama ini. Mereka merasa gagal karena belum menunjukkan kesungguhan pencapaian goals yang mereka tulis di awal tahun ajaran. Apa yang sudah mereka upayakan belum cukup memenuhi harapan seorang wali kelas.

Kalau mau jujur, saya turut merasakan arti tetesan air mata itu, bagaimanapun mereka telah berusaha menjadi pribadi yang baik, tapi hasilnya memperlihatkan bahwa mereka masih menunjukkan perlunya bimbingan dan dorongan guru, effort nya masih belum maksimal! Siswa perwalian rata-rata memiliki kepribadian baik, namun ada beberapa siswa yang memiliki  hati cukup  keras, sehingga perlu usaha ekstra untuk membentuknya. Contohnya dalam hal kedisiplinan, bukanlah hal yang mudah untuk mengubahnya. Janji-janjinya untuk mau mengubah sikap sampai saat ini belum ada yang terasa kongkrit dalam logika pemikiran saya. Terkadang jujur ingin menyerah, dua tahun membimbing tapi belum ada signifikansi hasil yang dinamakan sebuah perubahan.

Dalam kegelisahan, saya teringat akan sebuah renungan pagi yang pernah saya bawakan di depan kelas, di depan anak-anak perwalian. Ceritanya mengenai sebongkah marmer Carrara raksasa teronggok di depan teras gereja selama hampir 100 tahun. Di sana-sini terdapat carut marut bekas pahatan para pematung sebelumnya, yang menyerah karena kerasnya marmer itu. Tak ada yang sanggup menaklukkannya. Sampai suatu hari, seorang anak muda 26 tahun itu tertarik dan memahat marmer itu sehingga menjadi salah satu patung terindah di dunia. Sekarang adikarya itu dikenal sebagai “David”. Pematungnya tidak lain Michelangelo.

Renungan pagi yang pernah dibagikan ke siswa mengenai Marmer Carrara bertujuan agar siswa menyadari bahwa terkadang sebagai manusia terkadang hati kita keras, namun Tuhan Sang spesialisasi penakluk  hati yang keras, akan menjadi pribadi yang sabar dalam menghadapi kekerasan hati umatnya.

Ternyata renungan pagi yang dibawakan beberapa hari yang lalu itu cocok buat saya juga. Sebagai guru sudah seharusya “jatuh cinta” pada siswa seperti layaknya Michelangelo jatuh cinta dengan Marmer Carrara. Dari sekian banyak pemahat, dialah yang tanpa menyerah berusaha memahat patung itu sehingga terlihat indah.

Guru memang harus punya kasih yang panjang sabar. Dibutuhkan sikap hati yang pantang menyerah untuk “membentuk” karakter mereka. Walau terkadang kita merasa yang kita kerjakan buat siswa kurang berbuah bahkan mungkin jauh dari masa panen, seorang guru perlu tetap menjaga hatinya untuk tidak menyerah dan terjebak berlarut-larut dalam rasa galau karena rasa gagal.

Perasaaan gagal untuk dapat mendidik siswa memang seringkali hinggap dalam hati guru. Seperti juga yang saya alami. Ketidakmampuan mengubah seorang manusia menjadi lebih baik adalah sebuah tantangan yang selalu ada dalam membangun manusia seutuhnya. Istilahnya guru membentuk manusia, dan disaat bersamaan pula seorang guru berusaha menjadi pribadi yang sabar, penuh kasih dan tidak menyerah dalam membuat pahatan kerpribadian siwa yang indah seperti karya Michelangelo.

Di hari Pendidikan Nasional ini, saya ucapkan selamat berjuang bagi guru Indonesia. Tugas membentuk karakter siswa adalah tugas yang luarbisa, berkat Tuhan terbesar. Kesabaran diperlukan didalamnya.  Sudahkah kita memiliki hati seorang guru? Hati yang terus berusaha menciptakan generasi bangsa yang bukan hanya cerdas tapi menjadi manusia yang utuh. berefleksi tidak akan pernah cukup, harus ada usaha untuk bisa menjadi guru yang tidak pernah menyerah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s