Guru Adalah Pengrajin Moral Nak….

Sumber : http://www.igi.or.id

Hari ini sesi mengajar selesai sudah, terasa capek, tapi masih harus menyelesaikan soal ulangan harian untuk jadwal mengajar besok. Dengan gestur tubuh yakin, saya duduk di depan komputer dan mulai mempersiapkan soal ulangan harian.

Seorang siswa (SMA) terdengar mengetuk pintu dan masuk ke ruangan kelas saya.

Dia sudah berdiri dihadapan saya, persis di belakang layar monitor komputer.

“Miss aku mau ngobrol niih, yaah.. miss lagi kerja ya… istirahat dulu.. gak capek ya miss?? Dengan senyum manisnya, wajah di hadapan saya ini seperti memohon meminta waktu saya sedikit untuk bisa melakukan perbincangan.

“Miss apa yang membuat miss nyaman dengan jas yang miss pakai?” Seorang siswa melontarkan pertanyaan itu ke saya, meminta jawaban mengenai seragam guru yang saya kenakan yang memang buatan pejahit yang cukup branded.

‘Miss, jas yang miss pakai itu keren, hanya maaf ya miss… miss kenapa harus jadi guru?, jas nya kan emang keren tapi kalau saya baca dan denger-dengar dari orang, banyak yang bilang penghasilan sebagai guru itu dikit loh”  Mmmmh papa saya gag pernah pakai jas kalau bekerja, seringnya malah pakai celana pendek, tapi kalau dia angkat telepon saja pasti uang mengalir, maklum papa kan pengusaha, kadang gak perlu ke kantor, bekerja di rumah cukup.

Mendengar ucapannya, secara otomatis saya berhenti memencet  keyboard komputer, dan dengan gestur tubuh bersandar santai, pandangan lurus memandang siswa ini. Intuisi saya berkata sepertinya perlu melayani percakapan ini dengan serius,

“Ohh, kenapa kamu punya pemikiran seperti itu ?” kok tiba-tiba nanyanya begitu “ ujar saya.

“ Gag sih miss, saya lihat miss itu rajin, sepulang jam sekolah miss, masih terlihat bekerja,  saya merhatiin loh, miss itukan pendidikannya tinggi, cerdas, kemampuan komputernya lumayan bagus, baik, kenapa miss mau jadi guru?, kan kalau pindah profesi apalagi milih bisnis, saya yakin miss bisa dapat uang lebih banyak “

Sejujurnya terkejut dengan apa yang dilontarkan oleh siswa saya, memang dia sering datang ngobrol ke ruangan kelas, sambil menunggu jemputannya datang. Umurnya masih 15 tahun, keluarganya memang pengusaha, setahu saya papa dan mamanya hanya tamatan SMA, anaknya supel dan terbuka. Entah apa yang membawanya hari ini mengunjungi ruangan kelas dan bertanya “ mengapa saya mau menjadi guru ?”Akhirnya saya mempersilahkan dia duduk dan kami berbincang. Bagaimanapun mungkin ini adalah momentum untuk saya mereview dan menjawab apa yang menjadi alasan saya menjadi seorang guru.

Pertanyaan yang dilontarkan siswa saya sangat mendasar dan reflektif, ya mungkin bukan dia saja yang memiliki pemikiran mengapa seseorang memutuskan menjadi guru.

Pertanyaanya memaksa saya, mengingat proses saya menjadi guru adalah suatu “kebetulan” yang saya amini sebagai cara Tuhan membentuk saya dengan panggilan hidup. Bukan suatu hal yang muluk kalau mejadi seorang guru adalah pilihan hidup. menjalani profesi ini sudah berlangsung 12 tahun!

Tahun ini adalah tahun keduabelas saya mengajar. mungkin benar saya tidak bisa bersembunyi di balik jas yang saya miliki bahwa dengan penampilan yang rapi ini masih banyak profesi yang dapat menjadikan pundi pendapatan bertambah. Tapi jujur terkadang kata hati tak dapat dipungkiri, menjadi seorang guru merupakan kerinduan mendasar sebagai mahluk Tuhan yang ingin berguna dalam mempengaruhi hidup orang lain melalui ilmu yang dimiliki.

Bagi saya, guru adalah pengrajin moral, sebuah metafora yang menggambarkan bahwa dengan mengajar harus megajak orang menentukan jalan yang ditentukan Tuhan sesuai dengan FirmanNya. Manusia identik dengan moralitas, dan memang seharusnya begitu. Itu sebabnya seorang guru perlu menjadi memiliki moralitas tinggi karena dengan karakter moralitas yang baik maka tidak akan mengalami kesulitan sebagai pengrajin moralitas.

Sebagai pengrajin moral guru perlu menggunakan pendekatan reflektif dan rajin dalam melakukan tugas-tugas yang berkaitan dengan mengajar. Secara terus menerus guru sebagai pengarajin moral selain melakukan tugasnya dengan rajin, perlu suka merenung dan cerdas, ia harus pula cakap dalam pendekatan intuitif agar dapat membentuk karakter anak, sehingga mengajar tidak hanya dengan teori tapi dengan hati.

Bagian terakhir yang tak kalah penting adalah guru sebagai pengrajin moral harus mampu mengkritik diri sendiri sebagai reaksi atas apa yang dilakukan dan dirasakan. Dalam mengajar guru menentukan bagaimana mempengaruhi  kehidupan siswa  dengan cara pandang pentingnya nilai-nilai hidup yang baik dan benar.

Tanpa disadari siswa saya ini merefleksi ulang alasan saya sebagai guru, saya jelaskan juga bahwa dalam hidup tidak melulu bicara soal uang, tapi bicara soal kepuasan batin dan kekayaan hati, bagaimanapun selalu ada ada rasa puas jikalau siswa bisa berubah menjadi lebih baik, mengganggap mereka layaknya anak sendiri, meski saya belum punya anak😀

Siswa ini  memang berasal dari etnis yang cenderung bekerja keras dalam mengejar materi, dan itu bukan hal yang salah, sah-sah saja. Tapi penjelasan hari ini cukup membuatnya percaya bahwa menjalani panggilan hidup bukan hanya soal uang, tapi ada hal lainnya, meski saya juga mengakui kita semua butuh uang untuk hidup.

Ternyata memang selain mengerjakan sesi mengajar justru obrolan yang seperti ini tidak kalah penting,  Dibalik jas yang saya dipakai yang menurut siswa saya keren, ada muatan panggilan hidup, yang tidak semata mengejar uang.Syukurlah akhirnya siswa saya memahami itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s