Guru, Masih Maukah Kita Belajar ?

Sumber : http://detektiphoshiora.blogspot.com/2012_09_01_archive.html

Liburan lebaran yang cukup panjang disertai dengan banyaknya kesempatan untuk bersosial media dan field trip di dunia maya, mendorong saya meng-up grade semangat untuk membaca berbagai artikel pendidikan. Ini tahun ke 13 saya menjalani profesi sebagai guru, dan saya mencintai profesi ini. Profesi ini telah membentuk karakter saya menjadi seorang pembelajar yang terus menerus berusaha berinovasi dengan karya-karya baru, berpikir “muda” dan berusaha untuk berpikir kreatif meskipun adanya keterbatasan diri. Maklum mengajar siswa SMA selama 13 tahun menuntut menempatkan diri sebagai leader kelas yang juga perlu memiliki skills lainnya yaitu tuntutan untuk dapat menjadi “teman” sekaligus fasilitator siswa, yang mau tidak mau terus belajar. Perlu diingat setiap tahun ajaran baru ratusan siswa dipercayakan ke sekolah dan menjadi “ladang” pembentukan karakter generasi yang siap tempur di jamannya. Sebagai guru diperlukan kemampuan menjiwai karakter-karakter baru setiap anak-anak yang pasti unik, dengan tetap fokus dalam mengajarkan materi pembelajaran di kelas.
Bertahun-tahun menjalani profesi sebagai guru akan menggiring seseorang ke dalam “wilayah nyaman” karena sistem, metode belajar, dan segala hal yang berkaitan dengan pendidikan formal/ sekolah. Gaya dan metode belajar saat ini tentulah sangat jauh berbeda dengan apa yang ada saat ini. Dalam tulisan saya di kompasiana “Ingin Menjadi Guru seperti apa?” yang kita harapkan, belumlah berhenti sampai disana. Era pasaran kerja yang akan dipersiapkan bagi generasi saat ini menuntut guru untuk mau berinovasi terhadap kelas yang diajarkan. Siswa yang saat ini hidup dalam era digital tidaklah lagi dapat kita ambil perhatiannya dengan metode ceramah dan diskusi tanya jawab yang interaktif, meski itu baik dan mampu menginput pengetahuan yang cukup. Siswa saat ini membutuhkan guru yang mampu menarik perhatian mereka melalui apa yang mereka lakukan, ya salah satunya social media,ya facebook, twiter, path, pinterest dll. Sesuatu yang sesuai dengan ‘”jaman”mereka.

Bukan pekerjaan yang mudah

Sangatlah naif, (maaf) menuntut siswa kreatif tapi gurunya tidak kreatif. Sehingga dapat dikatakan menjadi guru kreatif memanglah tidak mudah. Kalau saya yang biasanya mengajar pelajaran sosial lalu diminta mengajar Art, pastilah bisa membuat tidur saya tak lagi nyenyak ! Kreatifitas yang saya maksudkan disini, bukanlah yang seperti itu. Kreatifitas yang dapat ditularkan adalah semangat menciptakan suatu inovasi dalam pembelajaran sehingga pembelajaran bukanlah hal yang itu-itu saja, siswa tidak hanya mendengar ceramah guru, siwa tidak hanya mengerjakan tugas atau proyek yang itu-itu saja. Siswa butuh tantangan, dan tantangan itu dimulai dari gurunya ! Guru yang memiliki keterbukaan untuk mau di kritik dan mau terus belajar adalah kebutuhan di jaman ini. Saya tidak mau terjebak dengan pembicaraan mengenai implementasi kurikulum 2013 walau memang sangat relevan dengan situasi pengembangan guru saat ini, tulisan ini hanya ingin membawa suatu kerinduan bahwa guru yang mau terus belajarlah yang sangat dibutuhkan di jaman ini, guru yang mau keluar dari zona nyamannya. Guru yang mau berinovasi. Siswa saya suka sekali menggunakan twitter, karakternya yang hanya 140 memaksa penggunanya menulis dengan tulisan yang singkat, jelas, dan padat. Berhubung saya menemukan siswa saya suka menggunakan Twiter, dan menemukan beberapa kata-kata “sampah” disana. Saya arahkan mereka beropini melalui twiter. Hasilnya ?, mereka belum terbiasa, tapi menurut saya ini sebuah proses. Akhirnya mereka menyadari sosial media dapat digunakan untuk belajar. Di jaman saya, hahah tentu saja dulu guru saya tidak pernah mengajar dengan sosial media. Jamannya berbeda😀. Ini hanya contoh kecil saja… Jaman ini membawa kita berbicara mengenai Digital media Culture, namun sebagian kita tetap bertahan dengan paradigma kolot bahwa kalau kita mengajar siswa harus tertib, diam, dan semua mata mengarah pada kita. Mungkin kita anggap itu tanda respek, menurut saya belum tentu. Saat ini para guru dituntut untuk mau belajar, pembelajar sejati terus sepanjang hayat, dan tidak dibatasi dengan lamanya menjadi guru. Siswa-siswa membutuhkan sesuatu yang menarik, kreatif, dan berkontribusi dengan pembentukan cara berpikir kritis, berkolaborasi dan mampu mengomunikasikan ilmu yang diperolehnya. Guru ? apa yang jadi bagian kita? Jawabannnya hanya satu, kita juga harus menghidupi apa yang kita katakan kepada siswa-siswa kita. “Kamu harus giat belajar”, “Kamu perlu lebih kreatif”, “sebenarnya kamu siswa yang pandai hanya belum memaksimalkan apa yang kamu miliki saja “. Kata-kata ini sering sekali diucapkan oleh para guru, hanya apakah kata-kata itu juga kkita arahkan bagi diri kita sebagai seorang pendidik ? Para guru mari kita belajar… :D</p>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s