Perilaku Beracun di Sekolah, Emang Ada?

photo-negative__largeSumber:

http://www.smallbusinesssuccess.ca/index.php/blog/article/is_your_office_a_toxic_dumpsite

“ Eh kamu itu beracun loh..”

“Hah? Maksud kamu apa?”

“Iya, perilakumu itu beracun…”

Coba bayangkan seandainya ada orang yang yang mengatakan hal seperti di atas dengan gaya sopan atau dengan cara membisikkan ke telinga kita bahwa kita punya perilaku beracun, bagaimanapun caranya bisa dipastikan wajah kita berubah seperti kulit jeruk purut, bahkan bisa-bisa marah dan menunjukkan bahwa kita benar-benar beracun dan dapat membahayakan orang lain😀

Dua minggu lalu saya mengikuti pertemuan  pekerja kantoran termasuk didalamnya profesi guru. Dalam dunia pendidikan ternyata tidak terlepas pada suatu lingkungna kerja yang tidak jauh sama gambarannya dengan pekerjaan kantor lainnya. Hanya mungkin kalau di dunia pendidikan kita mengenal istilah kompetensi yang wajib dimiliki guru termasuk teknik berkomunikasi yang benar dan sebagainya, namun ternyata guru yang namanya juga manusia tidak terluput dari perilaku yang beracun juga. Kok bisa?

Dalam tulisan ini saya hanya menjelaskan tiga dari delapan toxic behavior  atau perilaku beracun yang sangat mungkin terjadi di lingkungan kerja.  Berhubung saya bekerja di lingkungan sekolah maka saya coba menerapkan pengetahuan ini dalam konteks sekolah yang  memang seharusnya lekat dengan nilai  dan norma sosial sesuai dengan pengusungan moralitas dan hal-hal baik lainnya, namun apa daya namanya juga manusia yang terus berusaha ingin menjadi manusia yang lebih baik setiap harinya, terkhusus para guru, terjatuh  pada beberapa perilaku beracun  dapat menyebabkan produktivitas kerja menurun, hubungan antar rekan kurang harmonis yang pada tahapan tertentu justru dapat mengakibatkan kepribadian yang terpancar jauh dari fungsi guru sebagai role model.

Apa sih perilaku beracun itu ?

Ketika kita masih kecil orang tua sering mengajarkan bahwa ada beberapa perilaku yang dapat  diterima dan tidak dapat diterima, alias perilaku baik dan perilaku buruk. Prinsipnya sama saja di tempat kerja juga ada aturan mengenai perilaku yang diterima dan tidak diterima dalam iklim lingkungan pekerjaan, yang sekiranya dapat mempengaruhi hasil kerja dan hubungan keteribatan serta kerjasama yang dibangun antar sesama rekan guru. Bebebrapa Perilaku beracun yang akan dijelaskan adalah :

Arogan

Arogansi yang di maksud adalah sikap sombong yang dimiliki oleh seseorang, misalnya saja ada guru senior yang selalu menganggap guru yang bekerja setahun atau dua tahun sebagi guru yang miskin pengalaman dan tidak tau banyak mengenai metode dan strategi mengajar yang benar dan menarik. Istilahnya  ada keangkuhan yang tanpa disadari menjadi penghalang bagi menjalin relasi dengan guru-guru baru. Arogansi ini akan terasa dalam pergaulan keseharian di lingkungan kerja dengan spotanitas seperti “eh, ibu mengajar sudah berapa tahun ya? menangani anak kok kayak gitu “ Kalau guru yang sudah pengalaman sih biasanya tidak akan menghukum siswa dengan cara seperti itu, seharusnya..bla bla” Bayangkan jikalau kondisi guru baru sedang bingung dan panik, kebayangkan dia akan menjauh dengan guru senior tersebut dan menarik diri untuk belajar karena merasa tersudut dan dipersalahkan.

Pintar Berdalih

Apakah ada guru yang suka berdalih dalam pekerjaan yang nyata-nyata adalah perkerjaan yang seharusnya dikerjakan? Tentu saja ada, misalnya saja guru yang seharusnya mengajar dengan penuh semangat untuk mencerdaskan siswanya dengan metode diskusi dan problem based learning  supaya siswa melatih cara berpikir siswa yang lebih kritis. Berhubung sedang malas maka ia memberikan catatan saja dan pergi meninggalkan kelas hanya untuk mengobrol dengan guru lain yang tidak ada jam pelajaran. Kelas ditinggalkan dan siswa belajar sendiri dan sepanjang jam pelajaran hanya menulis saja😀. Lalu pas ketahuan oleh rekan kerja yang lain langsung “ngeles” atau berdalih sedang sakit kepala atau tidak enak badan. Padahal kalau memang sudah mempersiapkan diri dengan baik Guru tersebut dapat memberikan handout yang sudah tersusun rapi dan menjadi sumber belajar. Bila sekali dua kali terjadi karena sakit kepala mungkin masih bisa dimaklumi namun bila sering dilakukan perilaku ini termasuk kategori beracun, karena ada muatan “ngeles” dari tugas yang seharusnya dikerjakan. Ini sama saja seperi orang yang sering datang ke kantor terlambat tapi selalu mdngatakan bahwa alasannya terlambat  disebabkan karena macet lah, mobil mogoklah tapi alasan itu terlalu sering diucapkan, terlambat terus tanpa mau memperbaiki diri bahwa seharusnya ada solusi untuk bangun lebih pagi dan mulai mengatur waktu berangkat kerja dengan lebih baik.

Kehilangan  fokus

Bagaimanapun fokus pada pekerjaan adalah hal yang sangat penting dimiliki oleh setiap guru. Guru harus fokus untuk mengajar di kelas. Memang sulit untuk tetap fokus apalagi kalau guru sudah berumah tangga dan  masih mempunyai anak kecil di rumah. Secara otomatis terjadi gangguan konsentrasi yang sangat mungkin terjadi dalam usaha kita menjadi guru yang baik.

Tapi jangan salah, terkadang sebagai guru kehilangan fokus bisa juga terjadi dengan hal-hal kecil seperti guru yang sering bbm-an pada waktu mengajar, menerima telepon pada saat jam mengajar, apalagi dengan suara keras sampai siswa mengtahui isi pembicaraan😀 kalau perilaku ini sering dilakukan, wah bisa-bisa sebagai guru bisa digosipin oleh muridnya karena informasi pribadi tanpa sadar terungkap oleh siswa.

Itulah tiga dari delapan perilaku yang sadar atau tidak terjadi di lingkungan kerja dan dimanapun termasuk  juga di sekolah. Perilaku tersebut dilakukan oleh siapapun bahkan seorang guru yang sudah lama berkecimpung di dunia pendidikan. Fakta menunjukkan selama jadi manusia ya kecenderungan untuk melakukan perilaku baik dan buruk itu adalah  biasa, yang luar biasa adalah kalau sudah tahu yang baik maka harus dilakukan perbaikan kualitas diri tanpa pernah menyerah terhadap diri sendiri.

Guru adalah profesi yang cukup menarik perhatian banyak orang, di luar adanya pengajian yag tinggi atau yang tidak tentulah tidak akan mengurangi kharisma profesi yang cukup diagungkan ini. Terkadang tanpa disadari kita sering menasehati murid dengan banyak hal mengenai perilaku yang baik dan buruk, namun tanpa sadar kita justru lebih sering melakukan perilaku beracun itu sendiri. Tenang saja, saya yang menuliskan inipun sedang berjuang mengeluarkan racun perilaku ;D, gagal itu biasa, tapi tidak akan menghentikan semangat untuk bisa menjadi lebih baik hari demi hari sampai pada akhirnya layak dikategorikan sebagai Role model yang baik. Bagaimana? Apakah anda memiliki perilaku beracun?

(Dari Bapak PA dan berbagai sumber_DFOS)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s