Refleksi Fitur Diri dalam Karya Master Plan Sang Pencipta

http://peoplesliceoflife.com/2012/03/20/a-letter-from/

Bagaimana tanggapan pembaca bila melihat samsung galaxy S4 yang sedang diimpikan oleh banyak orang hanya digunakan sebagai penganjal pintu! Ya, barang itu teronggok disana, hanya teronggok. Fiturnya tidak terpakai sama sekali. Hanya sekedar fisik yang dimaksimalkan untuk mengganjal pintu.

Eiitss tunggu dulu, ini bukan cerita yang sesungguhnya, kalau ini memang terjadi tentulah saya orang pertama yang akan memungut samsung S4 tersebut lalu mengambilnya karena barang tersebut sangat tidak tepat berada disana, tidak layak sebagai pengganjal pintu, tugasnya sebagai pengganjal tidak sesuai dengan rancangan awalnya sebagai sebuah gadget berteknologi canggih. Gadget yang dapat dilakukan untuk banyak hal yang luar biasa.

Sayangnya, seringkali kita memperlakukan diri tidak jauh berbeda dengan kondisi di atas, memperlakukan diri tidak sebagaimana mestinya. Analogi yang sama juga pernah saya katakan kepada murid-murid bahwa apabila kita otak kita tergolong processor core i7 kenapa kita bekerja selayaknya pentium empat? Yang artinya bila kita diberi Sang Pencipta sebuah kemampuan mengapa sering kali kita memperlakukan diri tidak sampai batas maksimal yang mampu dilakukan?

Ide tulisan ini terinspirasi oleh seorang traveler yang saya temui dalam perjalanan menuju Taman Nasional Ujung Kulon. Berdasarkan cerita yang di share ternyata sudah banyak tempat yang dikunjungi di bagian Indonesia maupun di luar Indonesia, ia menikmati banyak keindahan alam ciptaanNya dan berupaya bersyukur buat banyak karya Tuhan dalam setiap perjalanan yang lakukannya, melalui alam dia mampu melihat bagaimana seharusnya hidup patut disyukuri. Sangat berbeda dengan saya yang banyak menghabiskan waktu di depan laptop kesayangan yang hampir menjadi kekasih disetiap hari Sabtu dan Minggu! Sering merasa letih dan lebih banyak mengeluh serta bersungut-sungut!

Kesan yang tertangkap mata hati saya ada ketenangan dengan gestur tubuh yang simpatik, setidaknya dalam pandangan saya. Perkenalan yang singkat akhirnya menguak bahwa dalam ketenangan yang ditunjukkanya ada sebuah perjuangan berdamai terhadap dirinya sendiri.

Beberapa kali terdengar alarm handphonenya berbunyi, yang akhrinya saya tahu itu adalah sebagai tanda pengingat penggunaan obat tetes mata yang harus dipakai 3 hari sekali dengan waktu tertentu untuk menghindari pecahnya pembuluh di mata yang dapat berakibat kebutaan, ini terjadi pasca operasi retina yang dilakukan beberapa waktu yang lalu.

Mendengar ceritanya, jujur hati saya bergetar karna bila mengalami kebutaan tentulah bukan suatu rencana yang mudah diterima oleh hati dan akal manusia. Berdasarkan ceritanya dapat diambil kesimpulan sudah banyak biaya penggobatan yang dikeluarkan untuk operasi retina dan pengobatan lanjutan, dan yang terberat adalah saat dia dilarang dokter untuk diving. Pastilah butuh waktu untuk berdamai dengan diri sendiri. Empati bekerja dalam hati saya, kondisi ini menarik hati saya karena jujur saja sebagai seorang traveler, melakukan snorkling dan diving itu berarti kecintaannya, passion hidup nya.

Mudah bagi kita bersimpati dengan orang lain, namun sulit terkadang mengoreksi diri kita sendiri, mengoreksi diri untuk masuk dalam titik kesadaran sebagai manusia yang perlu hidup secara utuh dengan penuh kemaksimalan, sesuai dengan goal master plannya Sang pencipta.

Sebelum mengikuti trip ke Ujung kulon, saya begitu pusing, saat ditunjuk menjadi leader yang akan memimpin beberapa orang dalam tim terasa hati perlu berdamai dengan diri sendiri. Tidak pernah ada keraguan akan kemampuan atau skill dengan ilmu yang dimiliki, namun yang membuat saya ragu adalah diri sendiri, bahwa ini tidak pernah hal ini terpikir dalam benak saya, rasanya tidak mudah untuk memulai memikirkan dan melayani oranglain, menyingkirkan egosentrisme. Hal apapun tidak akan mudah selagi kita merasa tidak siap dengan diri sendiri. Siap menyingkirkan bagian kepentingan mimpi pribadi.

Pulang dari perjalanan Ujung Kulon, ada komitmen yang lahir dengan keinginan untuk memaksimalkan fitur diri saya. Aplikasi-aplikasi yang begitu baik dan sempurna yang sudah Tuhan instal dalam diri saya. Entahlah perjalanan ke Ujung kulon membuka mata hati saya lebih baik. Semua keindahan alam semesta yang dapat dinikmati oleh banyak orang juga berlaku bagi saya, ciptaanNya yang sempurna.

Perjalanan yang ada hari ini masihlah sepenggal perjalanan dari master plan yang tercipta bagi masing-masing manusia, bukan akhir tapi mungkin kerelaan diri untuk turut dalam pembentukan Sang pencipta, suatu saat nanti semoga mencapai akhir yang manis, selama terus bersyukur untuk adanya hari ini.

#Tak semua keinginan dan mimpi bisa terwujud, namun yang pasti memaksimalkan hidup adalah bagian yang terbaik, yaitu mencapai master plannya Sang pencipta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s