Kita Memang Sudah Terbiasa Saling Memaki dan Menyudutkan

Sumber : http://intisari-online.com/read/haruskah-menampar-anak

Siang ini, jam tangan yang melingkar pergelangan tangan sudah menunjukkan pukul 02.30, waktu yang mepet untuk segera keluar dari plaza semanggi menuju Kalideres, jam empat saya ada janji dengan beberapa teman. Usai sudah perjumpaan dengan 3 saudara perempuan saya siang ini. Acara ngobrolmu diakhiri dengan senyum lebar dan saya bergegas menuju halte bus.

Hampir 30 menit saya menunggu bus, namun tak kunjung terlihat. Diluar dugaan saya melambaikan tangan kepada taksi yang melintas di depan. Yup, taksi itupun berhenti dan terasa kenyamanan  AC dengan tempat duduk yang nyaman. Sayangnya saya tak melanjutkan naik Taksi sampai Kalideres karna harus turun di slipi untuk membeli sesuatu. Terpaksa harus melanjutkan naik Kopaja yang perbedaannya seperti langit dan bumi bila dibanding dengan taksi yang  nyaman. Kebiasaan “ngetem” tak terhindarkan siang hari ini, panas yang terik semakin membuat kegelisahan saya memuncak tatkala melihat sang sopir seperti enggan untuk menancap gas. Aiih, ya sudahlah saya coba saja menikmati  perjalanan siang ini dengan bersyukur. Tak lama kemudian ada 2 orang pengamen perempuan naik dan menyanyikan lagu Alda, setahu saya, atau shyahrini ya. Entahlah. “ “Aku tak biasa…bila tak memeluk dirimu, aku tak bisa bila…., sayup saya tangkap liriknya. Yaaah lumayanlah. Pengamen memang perlu dihargai sebenarnya, selama memang bernyanyi untuk membuat suasana nyaman dengan suara dan musiknya, bukan untuk menambah semrautnya panas yang semakin terasa dan memancing migrain. Dalam kondisi yang sedikit mengatuk, saya mendengar makian : “Ehh, kalau sudah salah minta maaf lo!, tau diri! reflek saya menoleh kesamping, ohh kata-kata itu meluncur dengan kecepatan konstan dari mulut pengamen perempuan tadi ! sepertinya ditujukan ke seorang siswa SMA yang baru masuk ke bus. “ Lo, tuuh yang salah main injek kaki orang sembarangan, ngapain gue minta maaf! gag penting!, udah gag berpendidikan, miskin pula!. Disambut dengan teriakan yang tak kalah kuat  “Lo tuuh yang seharusnya tahu  diri”!, Plaaaak !!, sebuah tamparan pengamen mendarat di mulut sang pelajar. Waduuhh seketika kantuk saya pun pergi.

Saya mulai memperhatikan dua orang yang berteriak di siang hari yang jauh dari suasana teduh ini. Si pengamen langsung turun, sementaraa pelajar yang sedang bersengketa itupun tetap di dalam bus, berteriak dengan histesris tak menerima perlakuan tadi, tenan-temannya menahannya untuk turun dari bus. Dia berteriak histeris. Percekcokan ala perempuan pun terjadi, entah kata-kata apa lagi yang keluar, setahu saya pasti sama sekali tidak membangun. Orang-orang di dalam bus berusaha mendiamkan sang pelajar, karena ini yang paling memungkinkan, ya…setidaknya ia yang bisa ‘diamankan”. Namun emosi anak muda tak terprediksi, kepala saya pusing mendengar makian, dan kata-kata peghakiman yang keluar dari dua anak muda yang berbeda strata ini. Syukurlah sang sopir memahami saat ia memainkan pedal gas dan beranjak dari situ, yang berarti secara tak langsung memisahkan dua orang yang bersengketa. Tertegun sejenak, memang tak habis pikir untuk memperhatikan bagaimana emosi bisa mempengaruhi dan menguasai seseorang.  Emosi tersulut  tatkala, ego terusik dengan akata-kata “lo miskin, tak berpendidikan. Dasar An****.

Entahlah kita mungkin sudah terbiasa menyudutkan orang lain dalam hal mencari kesalahan. Sebenarnya persoalannya hanya sekedar kaki yang sengaja terinjak, tapi entah kenapa menjadi sesuatu yang akhirnya “menyenggol” masalah kelas sosial, menyentuh tema mengenai kesempatan bertahan hidup, menyentuh ego manusia yang memiliki kadar cepat marah.  Terusiklah rasa harga diri dan depresi yang terpendam dalam menghadapi hidup, hanya  karena kaki yang terinjak tak sengaja ? Entahlah, saya pikir ini bukan sinetron, bukan juga panggung drama pertunjukkan dimana pada akhirnya ada gelora tepuk tangan, saat terjadi klimaks emosi penonton. Tapi menurut saya ini adalah mengenai kebiasaan yang dilakukan para manusia, untuk dilihat manusia lainnya, kemudian ditiru dan dianggap sebagai nilai dan norma yang biasa. Apakah kita memang terbiasa untuk memaki dan menyudutkan ? Ahhh semoga kebiasaan ini tidak berlanjut dalam masyarakat yang penuh dengan depresi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s