Refleksi Workshop “ Deepen Relationship With God”

Image

sumber :https://deasisaragih.wordpress.com/wp-admin/index.php

Pagi ini cerah, udara membelai kulit dengan mesra, menyegarkan sekali dan sepi-nya pagi hari ini mengusap semangat untuk segera bergegas menuju Sekolah Dian Harapan Daan mogot dengan mengendarai Mio merah yang  setia menemani  :D. Pagi ini saya harus bangun pagi-pagi benar, karena setelah berkumpul di SDH Daan Mogot bersama teman-teman yang sudah janjian nebeng mobil teman, kami harus menuju SDH Karawaci untuk mengikuti workshop. Ya, tanggal 17-18 Oktober 2013 seluruh guru dan staff mengikuti Personal Development untuk memperkaya kualitas profesionalitas.

Avanza ber-AC yang nyaman dan alunan musik rohani yang pelan memanjakan telingga membawa suasana hati dalam keadaan teduh, maklum terkadang susana “santai” seperti ini jarang ditemui. Maksud dari santai adalah keadaan hati yang tidak terburu-buru karena masih bisa  chit-chat bersama para rekan guru dan sahabat  se-mobil yang membuat terbangunnya mood, semangat !

Bersyukur jalanan menuju Karawaci hari ini tidak macet sehingga kami bisa sampai tepat waktu, bahkan  masih sempat menikmati coffee morning, ditemani snack lezat dan minuman yang masih berasap kami menunggu dimulainya waktu Chapel. Waktu coffee morning diisi dengan mengobrol bersama beberapa teman dari unit lain, sekedar untuk menyapa dan melempar senyuman. Ya, harus diakui berkumpul dengan teman-teman dari berbagai unit  cabang Sekolah Dian Harapan yang ada di Jakarta, terkadang menjadi kesukaan tersendiri karena bisa sebagai jumpa kangen para rekan dan  sahabat yang terpisah antara Karawaci-Jakarta-Cikarang.

Ini kali pertama Personal Development yang dilakukan di tengah tahun ajaran, alias setelah mid term test, menurut  saya terasa tepat, karena memang guru dan staff perlu re-charge dipertengahan tahun ajaran. Tahun ini terasa berbeda karena kelas workshop yang dibuka cukup banyak, sampai 8 kelas!, masing-masing  guru diberi kebebasan memilih  sesuai dengan kebutuhannya masing-masing. Konsep PD seperti ini cukup melegakan, karena setidaknya kita bisa memilih workshop yang memang kita minati.

Acara hari ini dimulai dengan Morning Devotion yang dibawakan oleh Miss Selviana, setelah sebelumnya di acara pembukaan MC memimpin dengan lagu puji-pujian yang mengingatkan semua guru akan masa kecilnya waktu Sekolah Minggu dulu…semua pakai gerakan pula ! Lucu dan terasa sangat segar karna sambil bernyanyi kami tertawa melihat gerakan teman-teman yang lucu. Mau tidak mau suasana  benar-benar mencair dan aura morning devotion terasa segar. Miss Selvi membawakan Devotion dengan sangat interaktif, yang mengingatkan kita tentang kasih, serta bagaimana konsekuensi kasih yang identik dengan upaya ketidaksungkanan untuk melakukan pengorbanan terhadap sesama manusia.

Usai devotion dan penjelasan oleh Ibu Gunawati dan dilanjutkan dengan break, setidaknya saya merasakan bahwa hari ini spirit saya terlayani dengan baik. After break saya bergegas ke ruang workshop diruang 222, dan saya menjumpai banyak orang yang sudah ada di ruangan. Setidaknya kurang lebih ada 20 orang yang mendaftar. Dalam hati terus terang saya penasaran, apa ya yang akan saya pelajari dalam workshop hari ini….

Workshop di pimpin oleh Ibu Puni Rumanti dari Unit Daan Mogot dan Ibu Lisa dari Unit Karawaci. Dengan motivasi memang ingin menikmati workshop karena memang merasa perlu mengambil waktu tenang berhubung temanya “ Deepen Relationship With God” yang dalam anggapan saya mungkin bisa membantu dalam membenahi relasi saya dengan Tuhan, karena memang kesibukan terkadang mengikis kesukaan berdekatan dengan Tuhan. Maklum manusia, terkadang sering salah dalam memprioritaskan kebutuhan.

Mmmh, acara dimulai dengan Puji-pujian, suasananya santai nan teduh, sehingga pikiran mudah fokus dan slide demi slide saya ikuti dengan baik. Ada bagian yang membuat saya tertegun, ketika epilog Buku  Selamat Pagi Tuhan karya Pak Andar Ismail, yang berjudul “Mulai Pagi Ini” dibacakan. Seingat saya, puisi ini sudah pernah saya baca 13 Tahun yang lalu, namun hari ini “rasa”nya kok berbeda ya.. saya mulai melihat kebenarannya lebih terang dibanding 13 tahun yang lalu. Ini  puisinya :

Seperti biasa aku tergesa-gesa,

langsung mengurus ini dan itu,

terburu-bru mandi, makan.. buru-buru ke tempat kerja…

 

aku tidak mempunyai cukup banyak waktu

aku orang sibuk, banyak tugas, banyak acara;

karena itu aku tidak sempat berdoa

 

hari itu segala yang kulakukan menubruk ksana-sini

persoalan datang bertubi-tubi

“mengapa Tuhan tidak menolong?” aku bertanya

Tuhan menjawab, “tetapi engkau tidak meminta”

 

aku ingin hari itu bertabur bunga keberhasilan,

namun yang ku hadapi adalah belukar berduri.

aku heran mengapa Tuhan tidk menunjukkan jalan.

Tuhan pun balas bertanya, “mengapa kamu tidak mencari?”

 

persoalan demi persoalan membuat aku terjerembab,

aku putar otak dan berupaya, namun sia-sia

dalam hati aku menggugat

mengapa Tuhan tidak memberi jawaban

Tuhan berkata, “tapi kamu tidak bertanya.”

 

jalan macet menghadang, jalan buntu menunggu

beban masalah menekan aku merunduk

berbagai kunci ku coba untuk membuka pintu

tersenyum Tuhan berucap, “mengapa kamu tidak mengetuk?”

 

kepalaku oleng bak kapal bersandar tanpa sauh

hatiku gelisah meronta seperi ikan dalam pukat

aku merintih, “Tuhan mengapa Engaku begitu jauh?”

Tuhan menjawab, “tapi kamu tidak mendekat”

 

lalu mulai pgi ini, aku terlebih dulu menenangkan diri,

berkonsolidasi, mencari visi, bermeditasi,

begitu banyak yang hari ini perlu ku kerjakan.

tapi justru itu ku membuka hubungan

“SELAMAT PAGI TUHAN”

 

Puisi ini membawa pikiran saya menjelajahi waktu tahun-tahun yang sudah berlalu. Sewaktu saya masih mahasiswa, kurang lebih 13 tahun yang lalu, saya kurang memahami kondisi yang ada dalam puisi ini karena hidup dalam dunia kerja masih berupa bayangan, puisi ini sepertinya hanyalah sekedar ‘sirene peringatan” mengenai bagaimana seharusnya nanti ketika saya bekerja tetap ingat bahwa saya perlu menjaga relasi dengan Tuhan. Namun lain teori lain kenyataan yang dikerjakan, setelah bekerja, puisi ini malah menjadi  berupa gambaran diri saya yang terperangkap dalam  dunia kesibukan yang merengut  keberadaan spiritualitas dengan sesuatu yang belum tentu bernilai sama. Dalam hati saya berguman “ ya, pak Andar anda benar! Itu saya !”

“Ya, itu saya !”, dalam kesibukan terkadang ada kegelisahan tatkala banyak hal yang dikerjakan tidak mencapai apa yang diinginkan. Melankolis saya pun muncul dan saya mendapati pemikiran bahwa pengakuan terhadap kondisi kebenaran perlu dilanjutkan dengan perbaikan. Perbaikan hubungan yang seharusnya atau yang semestinya.

Apa yang harus saya lakukan ? sebelum pikiran saya menjelajah terlalu jauh. Slide menampilkan bahwa ada 5 hal yang perlu dilakukan :

1.       Spending Time With God

2.     Learning To Communicate

3.     Be Open and Honest before God

4.      Always follows the advice given and learn from our mistakes

5.       Sharing our relationship with other

Spending time with God memang kegiatan sering yang terluput, di pagi hari kita terkadang lebih berkonsentrasi dengan kegiatan mempersiapkan /memasak breakfast dan Lunch. Bukan mengambil waktu berkasih-kasihan bersama Tuhan. Komunikasi dengan Tuhan juga berlangsung begitu cepat dan terkesan hanya bagian permukaan saja, terkadang komunikasi yang dangkal, kurang terbuka terhadap permasalahan hati, kurang jujur dihadapanNya. Padahal selayaknya pihak yang diciptakan Tuhan, Sang pencipta memang sudah tahu apa yang menjadi permasalahan yang dialami, namun yang diciptakan perlu untuk terbuka tanpa sekat, tanpa rasa malu, apa adanya berbicara dengan Tuhan. Toh, Tuhan sudah tahu siapa kita ! Berdoa tanpa pending atau gangguan provider, jaringan yang lancar dan begitu mudah, murah, Tapi mengapa sulit untuk dikerjakan ?

Pimpinan Tuhan kita butuhkan agar apa yang kita jalani menjadi lebih ringan bahkan tidak membuat kita terluka, menubruk sana-sini.

Semua yang dipaparkan hari ini, mungkin sudah sering didengar, namun akan akan terasa ada hal baru tatkala ada telingga dan hati yang mau terus dilatih dan dibentuk  dengan benar.

Acara Workshop dilanjutkan dengan sharing kelompok kecil yang terdiri atas 4 orang, kelompok kami membahas Yeremia 17 ayat 5-8, ayat yang memberkati kami. Dalam diskusi kelompok kecil kami memiliki banyak pengalaman berkaitan dengan ayat ini. Bagaimana mungkin kita mau terus bagaikan pohon yang ada di tepi sungai kalau selalu mengandalkan pikiran, kemampuan dan kekuatan sendiri. Bagaimana mungkin manaruh harapan dengan Tuhan tapi tak memiliki waktu banyak untuk meminta pimpinanNya?. Keterlaluankan apabila kita mengandalkan intelektual, pengalaman, kemampuan tanpa minta kekuatanNya? Setelah diskusi kamipun mempresentasikan hasil diskusi kami masing-masing, berbagi berkat.

Dalam workshop yang tenang, senyum yang lebar, canda peserta yang mencairkan suasana, saya yakin Tuhan bekerja melalui pikiran, hati dan akal budi kami masing-masing, tentu saja dengan cara berbeda sesuai dengan kapasitas masing-masing peribadi. Proses itu sudah dimulai sejak awal kami mengikuti workshop di ruang 222 dan terus berlangsung hingga akhir waktu. Selesai sudah workshopnya. Hal yang saya dengar mungkin bukan hal baru, tapi bila kita peka akan selalu ada hal baru dengan sudut pandang yang baru yang terbentuk dalam diri kami masing-masing. Sama seperti yang tertulis dalam Yeremia 17 ayat 5, intelektualitas boleh semakin tajam tapi bukan berarti menjadi penghalang pembaharuan proses-Nya dalam kehidupan karena kita terlalu mengandalkan diri sendiri. Connected with God kunci dimulainya relasi yang terbangun baik, relasi dengan Tuhan dan relasi dengan sesama.

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s