Ujian Nasional dan Kegelisahan Dalam Rasa Paham

Saya tatap jam dinding yang berjarak 6 meter ke depan dengan sedikit mendongakkan kepala, tak terasa sudah pukul 5 sore, waktu dimana seharusnya saya meninggalkan ruang  kelas tempat setiap hari mengajar, maklum sekolah menerapkan moving class, jadi setiap guru punya ruang masing-masing. Badan saya terasa cukup letih setelah mengajar 8 sesi hari ini, ditambah meeting, tapi saya harus bersemangat menyisakan sedikit tenaga di sore ini untuk survey tempat sesuai dengan surat tugas mengawas UN yang sampai ke meja kerja siang ini. Saya mengawas di sekolah “X”, nama sekolahnya terdengar asing di telinga, bukan sekolah yang populer. Dapat dipastikan teman-teman guru di sekolah tidak ada yang tahu pula dimana posisi sekolahnya. Survey tempat harus dilakukan, supaya besok hari pertama mengikuti pengarahan Ujian Nasional tidak membuat saya kebingungan mencari posisi sekolahnya.

Sekali lagi sebelum pulang saya sempatkan membuka Google Maps memperhatikan lokasi yang ingin saya tuju  dan mengira-ngira denah posisi tempat yang belum saya kenal. Saya matikan komputer, LCD, AC dan lampu dan bergegas menuju tempat parkir. Seluruh lorong sekolah sudah sepi, semua teman sudah pulang, namun ternyata ruangan di seberang ruangan saya masih menyala, masih ada teman rupanya. Hanya kami berdua yang belum pulang, berbincang sebentar dan kami buru-buru menuju  tempat parkir motor.

Di luar dugaan, tempat yang saya tuju ternyata sebuah sekolah yang persis berada di pinggir jalan sempit, di sekitar pasar tradisional yang sampai sore masih terlihat aktivitasnya, kalau dari luar sekolah dengan gerbang yang tinggi ini lebih mirip seperti Klinik Obat Cina. Tiba-tiba perut terasa mual, tercium banyak bebauan disini. Bau yang kurang saya suka, ditambah suasana becek karena sejak siang turun hujan cukup besar. Saya putuskan untuk tidak berlama-lama, motor saya sesegera mungkin meluncur cepat meninggalkan sekolah bernama “X” , kalau tidak segera pergi, bisa-bisa  muntah mencium semua aroma pasar ini, kepala saya mulai pening.

Keesokan harinya, pukul delapan saya kembali berhenti di depan gerbang yang sama, gerbang yang saya kunjungi kemarin sore, seorang satpam membukakan pintu. Dihadapan saya terlihat sebuah sekolah, gerbangnya hanya memiliki lebar 4 meter saja, namun bila setelah masuk melewati gerbang ini, orang luar tentu tidak akan mengira bahwa sekolah ini cukup besar, dua lantai. Terlihat banyak siswa yang sedang berolahraga dilapangan, ramai.

Pikiran saya menerawang, kondisi ini sangat kontras dengan situasi yang ada di sekolah tempat saya mengajar. Disini ruangan kelas tidak ada AC, tidak ada komputer di setiap ruangan, tidak ada LCD. Walau begitu suara siswanya tetap terdengar antusias, mereka sepertinya mengabaikan semua fasilitas itu. Buktinya saya melihat mereka bersuara senang dalam senda gurau. Satu lagi, hampir saya lupa, bau pasar masih nempel dihidung saya, sedikit mual, tapi saya harus atur wajah saya supaya siapapun orang yang saya temui  saat itu tidak melihat “keganjilan” di wajah saya.

Bercermin dari apa yang saya lihat, potret kondisi dunia pendidikan Indonesia memang beragam, sangat bervariasi. Pastilah masih banyak kondisi sekolah yang lebih parah dari kondisi ini. Sekolah dengan suasana berisik, bau pasar tradisonal dan wajah para siswanya siswa-siswa jauh dari kesan punyai uang. Sangat sederhana.

Saya pun teringat tahun lalu, saya juga mengawas di sekolah yang hampir mirip hanya mungkin asesoris tambahannya adalah suara pesawat terbang yang membuat telingga sedikit terganggu. Jadi tahun ini sudah lebih baik😀

Jangan pernah membandingkan tempat dimana saya mengajar dengan tempat yang akan saya kunjungi 4 hari kedepan untuk Ujian Nasional ini, karena bila membandingkan itu tandanya absurb. Karena memang tidak terbandingkan.

Hal ini yang membuat saya miris memikirkan laju perkembangan pendidikan di Indonesia. Saya tidak akan berpikir jauh untuk membicarakan Indonesia yang luas. Saya masih bicara mengenai suatu tempat di Jakarta. Rayon yang sama. Bagaimanakah sebuah Ujian Nasional dapat menjadi suatu parameter yang diberlakukan sama untuk mengukur keberhasilan siswa dalam belajar?

Tidak pernah saya menyangsikan bagaimana guru mengajar dengan memanfaatkan fasilitas yang ada. Dalam anggapan saya meskipun sekolah berfasilitas rendah tentulah semua guru memberikan bagian yang dimilikinya untuk dapat di transfer kepada anak-anak muridnya. Namun, tidak dapat dipungkiri juga bagaimana “persaingan” yang terjadi sebenarnya. Siswa yang memiliki orangtua cukup kaya dapat menyekolahkan anaknya di sekolah dengan berbagai fasilitas yang dapat mendukung pembelajaran yang kreatif dan inovatif. Mereka tidak akan terganggu dengan berbagai bebauan pasar yang menyengat. Mereka punya hidup yang cukup enak untuk dapat bersekolah menikmati fasilitas belajar dari orangtua, kesempatan untuk melakukan banyak hal yang mereka suka, mengikuti berbagai les yang yang akan mendukung mereka memiliki Skill untuk bisa memasuki dunia kerja yang memang mereka inginkan. Dan yang terpenting mereka memilih sekolah dengan fasilitas memadai untuk bergerak kearah pembalajaran berbasis teknologi abad ini.

Saya tersadar, kondisi ironis sedang ada dihadapan saya. Siswa-siswa yang saya lihat sangat sederhana, kulit mereka agak hitam karena sering terkena matahari, gaya rambut pun sedikir alay. Satu hal yang saya tahu mereka tetap bisa tertawa dan tersenyum meski bau pasar tercium dan suara gaduh terdengar di ruang kelas mereka yang pengap. Dalam hati saya membatin, Ujian Nasional masihkah menjadi sesuatu hal yang Fair sebagai alat ukur. Syukur-sukur bisa lulus. Ujian Nasional di rayon yang sama dengan kondisi yang berbeda di tiap sekolah, Adakah keadilan didalammya? pantas saja kita sering mendengar banyak siswa histeris menangis stress berat melewati UN, jadi lebih sering berdoa karena diliputi perasaan kuatir tidak lulus karena belajar seadanya dalam kondisi sebisanya. Bagaimana tidak mereka tahu alat ulur yang dipakai oleh negara dipukul rata berlaku umum padahal kondisi fasilitas belajar mereka jauh berbeda. Tidak perlu mengaitkannya dengan seluruh wilayah yang ada di Indonesia, kerena menurut saya itu berarti membandingkan bumi dan langit.

Bagaimanapun besok adalah hari Ujian Nasional, alat ukur negara yang benama UN berpura- pura buta, Ujian Nasional harus berjalan. UN dengan bangganya akan memisahkan siapa yang lulus atau tidak lulus, tanpa melihat latar belakang sekolah dan keberadaan sekolah.

Selamat Ujian Nasional Bagi Seluruh Siswa di Indonesia.

Selamat Berjuang. Semoga semua semua lulus.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s