DIA membawaku ke tahun 2014

Sebuah perubahan adalah keabadian yang akan terus ada selama manusia hidup. Mungkin konsep perubahan ini pula yang akan terus terjadi dalam diri setiap manusia termasuk didalamnya manusia yang mengaku bahwa pengembangan talenta satu menjadi dua, dua menjadi empat. Empat menjadi delapan dan seterusnya akan terus berlangsung sepanjang hidup. Proses perubahan.

Tahun 2013 menurut saya menorehkan sebuah perjalanan yang membawa warna hidup terasa lebih berwarna, dimana di tahun ini bisa merampungkan studi S2. Bagi banyak orang dapat menyelesaikan studi mungkin hal yang biasa : D, namun bagi saya terasa sebagai bonus Tuhan adalah karena saya dapat menyelesaikan perkuliahan dalam kondisi tetap bisa membiayai perkuliahan sendiri sekaligus tetap bisa membantu mama yang membutuhkan support keuangan tiap bulanannya. Jujur saja saya bisa mengklaim janji Tuhan bahwa Ia mendengar setiap doa dan menghargai kerja keras umat yang menggantungkan hidup padaNya.

Tahun 2013 juga, saya diberi tugas di kantor berupa pelayanan sebagai team leader yang bekerjasama dengan 12 teman-teman di tim IPS. Hal ini diluar dari keinginan dan pemikiran saya sama sekali karena sejak tahun 2005 saya selalu menolak akan pembentukan Tuhan sebagai seorang leader. Meski di tahun 2005 tawaran sebagai wakil kepala sekolah pernah mampir dalam peningkatan karier di dunia pendidikan, namun saya tolak. Buat saya walau talenta  leadership itu ada dalam diri, namun saya menguburnya dalam-dalam karena bila dibentuk ke arah sana kok terasa selalu dituntut akan tanggung jawab, pertanggungjawaban dan kehilangan banyak kesempatan untuk bersantai😀

Namun, saat “tongkat pelayanan” itu datang kembali, bentuk “ketaatan” akan sang-Khalik sebagai kesempatan kedua membawa rasa hormat akan kesempatanNya yang akhirnya membuat saya mengiyakan tugas yang diberikan kepala sekolah, meski membutuhkan waktu 2 minggu, untuk berdamai dengan diri sendiri😀. Saat ini proses pembentukan itu terus berlangsung dan saya belum tahu akan bermuara kearah mana.😀

Dalam proses belajar meningkatkan kualitas hidup, di tahun 2013 ini, sebuah peristiwa dijinkan terjadi. Di tahun ini  tugas di sekolah sebagai guru tak lepas dari tugas sebagai wali kelas yang diberi kepercayaan untuk menjadi wali kelas sejumlah 26 siswa kelas 12 yang akan segera menyelesaikan studi. Namun entah kenapa kepercayaan diri saya yang sudah bergelar master pendidikan belum maksimal, tatkala harus “berhadapan” dengan seorang siswa perwalian yang mengalami kesulitan dalam belajar. Berbagai pendekatan sudah saya lakukan dan ternyata tidak cukup buat saya “menerobos” permasalahan dan membuat ia berubah dan menemukan tujuan belajar sesungguhnya. Untuk beberapa saat ini merupakan PR khusus😀

Siapa sangka, justru perasaan gagal saya inilah yang membuat saya tertarik untuk mempelajari grafologi, sebuah ilmu tentang tulisan tangan. Grafologi menjadi media yang dapat mengungkapkan karakter dan kepribadian seseorang melalui tulisannya. Kepribadian yang dimaksud termasuk kekuatan diri, kelemahan, dan kelebihannya. Hal ini didasarkan bahwa tulisan tangan muncul dari alam bawah sadar, maka ia memberikan informasi yang sangat berharga untuk menginterpretasikan karakter seseorang. Harapan yang muncul adalah dengan grafologi ada “cara cepat” untuk bisa memahami orang lain (Baca : Siswa). Dengan kombinasi grafologi dan ilmu pendidikan yang sudah saya miliki ingin rasanya memberikan kontribusi yang lebih baik di dunia pendidikan.

Niat yang baik, tak selamanya mendapatkan tanggapan yang positif dari pihak-pihak terdekat termasuk para sahabat yang memberikan respon terhadap “cara” yang saya ambil dengan mengambil course grafologi.

Respon pertama saya dapat dari salah satu orang terdekat yang langsung tertawa, dan sorot mata meledek bahwa keputusan saya untuk mendalami grafologi merupakan keputusan ekstrim karena kami memang tidak pernah mendiskusikan hal ini sama sekali😀, dan tentu saja sangat bersebrangan dengan teknologi pendidikan yang selama ini kami coba terus upayakan dalam proses belajar mengajar selama ini. Respon ini sempat membuat otak dan hati saya “bekerja” keras untuk menjaga semangat tetap ada….

Respon kedua saya dapatkan dari seorang rekan kerja yang dengan gaya santainya bilang “ooh, kamu mau belajar grafologi trus sekalian ajah belajar tentang letak tahi lalat di wajah untuk mengetahui kepribadian seseorang”. Komentar yang dalam menusuk hati saya ini saya tanggapi dengan tertawa saja, karena sebegitu skeptisnya dia terhadap orang yang ingin belajar hal tertentu tanpa memberi kesempatan sedikit penjelasan, dan dia memberi komentar tanpa terlebih dahulu menjelaskan apa yang dia tahu mengenai ilmu ini😀.

Kontra yang begitu banyak tidak membuat semangat saya untuk bisa memahami perilaku siswa-siswa mendatang dengan lebih baik menjadi surut. Tatkala saya menyampaikan niat untuk mempelajari ilmu ini dengan serius kepada @AndreQiu yang memberikan pertanyaan-pertanyaan reflektif (yang tidak disadarinya) yang harus saya jawab untuk diri sendiri sebelum saya bulat tekad bertekun dengan grafologi. Hasilnya? Dengan pertanyaan reflektif yang dilontarkannya mendorong saya mencari tahu dengan browsing, membeli buku, dan setiap hari berusaha menjawab pertanyaan-pertanyan reflektif yang menguatkan hati bahwa memang ini keinginan yang perlu diwujudkan dengan rasa tanggung jawab. Dari beberapa orang yang saya minta pendapat, mungkin @AndreQiu yang memberikan jawaban positif dan mendorong saya untuk terus “menciptakan diri” tanpa berhenti, untuk kemuliaanNya.

Untunglah kontra bisa membawa saya pada keteguhan hati, dan dukungan memberi saya kemampuan untuk mengambil keputusan. Setelah saya doakan beberapa minggu, akhirnya saya putuskan untuk belajar ilmu ini. Harapan saya? Simple saja saya ingin mempelajari sesuatu hal yang sekiranya mampu meningkatkan profesionalitas saya sebagai guru, membantu orang lain dan menghasilkan bonus Tuhan akan talenta lainnya nanti yang akan dilipatgandakan😀 (berharap siih.. heheh).

Di akhir tahun 2013, banyak sudah perjalanan mempelajari banyak hal mengenai kepemimpinan dalam tim, proses belajar memahami prilaku siswa, proses mempelajari metode belajar dan banyak hal mengenai apa artinya “menciptakan diri”, DIA membawa saya melewati tahun 2013 dengan baik dan dihantarkan ke tahun 2014 yang pasti lebih baik😀. Satu hal yang saya yakini, Hari ini kita menanam benih, di sebuah tanah yang subur… suatu saat pasti akan ada hasil. Di hari ini kita menginvestasikan waktu, uang dan tenaga mempelajari suatu hal yang baru, suatu saat pasti akan ada hasil😀

4 thoughts on “DIA membawaku ke tahun 2014

  1. Perjalanan menarik sekali Mbak Deasi. Yang menarik ketika mengambil grafologi tsb. Kadang, perjalanan memulai selalu menyepi. Trims tulisannya Mbak, sangat menginspirasi! Selamat Tahun Baru ^_^
    Made Hery

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s