Let’s Learn, Unlearn and Relearn

034b542403cd26ae19d531e0b1e27cc0

Di awal tahu ajaran baru, saya diberi kesempatan untuk membawakan renungan untuk guru, dan seperti biasanya akan selalu ada kebingungan, karena pertanyaan awal yang selalu terlintas di benak saya adalah sekiranya renungan apa yang pantas untuk dibagikan ya? yang sekiranya bisa menjadi berkat. 

Setelah memikirkannya beberapa hari, akhirnya saya memutuskan untuk membagikan sesuatu yang saya alami saja, yaitu mengenai perjalanan dengan beberapa rekan kerja untuk survei ke Kopeng guna kebutuhan mencari tempat untuk pelaksanaan kegiatan Live in Kelas 11 di bulan Oktober mendatang.

Perjalanan Jakarta-Kopeng  dilaksanakan tanggal 1-4 Agustus, ya..benar perjalanan yang bersamaan dengan arus mudik lebaran, karena memang itu waktu liburan yang bisa dimanfaatkan agar tidak mengganggu waktu mengajar.

Dengan mobil yang kendarai seorang teman, Pak Anton namanya. Jadilah kami berkumpul tanggal 1 Agustus di sekolah untuk memulai perjalanan kami. Mobil yang kami tumpangi adalah mobil baru, ya mobil yang cukup nyaman untuk menjadi “rumah” selama beberapa jam bagi kami, maklum situasi arus mudik pastilah akan membuat kami bertahan lama di dalam mobil. Berlima kami melakukan perjalanan tersebut dengan antusias, ya setidaknya kami akan menghirup udara Kopeng yang segar🙂

Arus mudik memperhadapkan kami akan situasi bahwa siapapun yang mengendarai mobil perlu dilengkapi dengan kemampuan mengendarai mobil yang mumpuni, apalagi bila mobil yang ditumpangi manual, bisa dibayangkan bagaimana pegalnya kaki?

d3b630901a86b25be18dc0e163de3f6f

Sepanjang perjalanan, saya memperhatikan Pak Anton bukan saja memiki Surat  Ijin Mengemudi,  namun mampu menyetir dengan baik dan menguasai “medan perjalanan” Jakarta – Kopeng. Setidaknya dalam perjalanan malam, dalam kegelapan dia bisa tetap konsentrasi dan pembawaannya tenang walau kita melewati tikungan tajam, yang terus terang beberapa tikungan tajam membuat hati saya ciut karena ada rasa takut.

download

Beliau tahu bagaimana memformulasikan kemampuan menyetir, stamina, dan penguasaan “medan  perjalananan” yang bukan hanya  lurus saja, namun juga melewati belokan-belokan tajam dan dalam kondisi malam yang gelap.

Yang mau saya sampaikan adalah bahwa kemampuan mengendarai mobil yang ada dalam diri pak Anton, merupakan sebuah USAHA, yang dimulai dari cara berpikir yang positif sehingga ia berani menyetir di perjalanan yang cukup panjang, ia menguasai “medan perjalanannya”, dalam hal ini lalu lintas jakarta – Kopeng.

Perjalanan ini menginspirasi saya untuk mengaitkannya  dengan keberadaan kita sebagai seorang guru.

Saya pikir setiap guru Guru juga memiliki tantangan serupa untuk menguasai “medan perjalanan” .

Sebagai seorang guru, tentulah kita pasti sudah memiliki ijazah, yaitu surat ijin untuk mengajar,  cukup pengalaman dan hati yang mau melayani siswa sebagai sumber daya manusia yang sangat berharga. Cukupkah itu?

Lalu apa yang menjadi “medan perjalanan” kita masing-masing?

  • Apakah kurikulum 2013?
  • Apakah metode belajar?
  • Apakah mengenai leadership?
  • Apakah  mengenai bagaimana menghadapi siswa perwalian? masing-masing kita punya “medan perjalanan”, baik bagi guru baru alias guru di tahun pertamanya, guru yang sudah lama mengajar atau guru yang masih mencari panggilan hidupnya /proses untuk menjadikan profesi guru sebagai tempat pengabdian

Belajar dari perjalanan Kopeng_Jakarta,  untuk menjadi fasih dalam menguasai “medan perjalanan”, dibutuhkan

  1. Learn : Proses belajar menjadi seorang guru akan terus berlangsung sepanjang hidup. Kita terus dituntut untuk mau belajar supaya pikiran dan mental juga terbentuk dan menjalani panggilan sebagai guru dengan seturut kehendak Tuhan.

Dengan pembaharuan budi, menjalani kehidupan yang penuh dengan anugerah Tuhan mendorong kita untuk mencari tahu apa yang menjadi kehendak Allah untuk bisa kita lakukan sebagai seorang guru sesuai dengan bagaimana Tuhan memanggil kita secara pribadi. Proses untuk terus mau belajar menandakan sebuah kehidupan yang terus bertumbuh.

images (77)

learning_quote_thumb

  1. Unlearn : Belajar melupakan dan meninggalkan hal yang kurang baik. Kita harus melepaskan apapun itu yang membuat kita lemah dalam memperbaharui pribadi kita, misalnya kita pernah menerima kritikan yang melemahkan pada saat kita berusaha menjadi seorang guru, misalnya kita pernah dikritik (apapun itu) sehingga membuat kita lemah, atau bahkan menganggap diri kita tidak mampu menjadi guru yang sesuai harapan. Dalam pembaharuan budi kita akan memandang kehidupan yang kita jalani saaat ini berdasarkan pola pikir Tuhan, salah satu hal yang akan terjadi adalah kita tidak hanya memikirkan apa yang bisa menguntungkan diri kita, melainkan kita juga memikirkan bagaimana kita bisa menjadi berkat bagi orang lain sesuai dengan karunia yang kita miliki. Perjalanan yang kita alami berbeda-beda, ada saatnya kita berada dalam kondisi baik, namun terkadang ada yang membuat kita tersandung dan terkadang kita lelap dalam keadaan yang membuat kita berhenti untuk belajar. Harus ada proses Unlearn.

Seingat saya keluarga kecil Pak Anton kecilnya mengalami kecelakaan dan salah satu anak perempuannya mengalami kecelakaan di kepala,  cukup parah, menyisakan trauma, namun Pak Anton belajar melupakan peristiwa yang akan melemahkannya, dan bangkit untuk melupakan, dan mengisi kembali dengan belajar ulang, menguasai emosi, tetap memakai kemampuannya untuk bisa digunakan untuk menjadi berkat oleh orang lain. Sehingga kecelakaan yang dialami keluarganya tidak disimpan terus sebagai sebuah trauma yang melemahka, namun sebagai pengingat akan kehati-hatian, dan bangkit untuk terus mau mencoba, dan tidak Stuck di permasalahan yang sama. Buktinya ia mampu mengendarai kendaraan kami dengan baik.

images (2)

  1. Relearn: Belajar untuk mempelajari kembali yaitu memperbaiki pengetahuan yang salah, meningkatkan skill, meluruskan pemahaman yang keliru,mengerti menjadi guru yang megajarkan mengenai moralitas dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai kebenaran, mengadopsi mengenai nilai-nilai baru dan menyaringnya sesuai dengan “penggaris” yaitu kebenaran Tuhan.

Proses ini memang tidak mudah dan akan berlangsung sangat panjang, Tuhan tetap menginginkan kita terus mengalami pembaharuan budi, mampu membedakan apa yang menjadi kehendak Allah, dalam hidup kita, sebagai seorang guru, sebagai pribadi yang tidak menyerah untuk mau terus belajar.

Wahh rasanya berat ya, apa yang saya sampaikan ini juga berlaku buat saya,  mahluk yang jauh dari sempurna. Namun Tuhan, sebagai sang pencipta menginginkan setiap manusia untuk terus mau belajar, memiliki cara pikir baru yang sesuai dengan FirmanNya, tahu bagaimana cara bertindak dan menangani hal-hal secara baru sesuai dengan proses pembaharuan budi, yaitu proses untuk Learn, Unlearn, dan Relearn, yaitu Mindset yang terus mau bertumbuh, sesuai dengan apa yang Tuhan mau, kerelaan untuk tunduk pada dengan kewibawaan Firman Tuhan.

download (1) future

Roma 12_2

Jangan biarkan waktu terbuang dengan percuma, jangan biarkan orang lain menghakimi kita terlalu lama dan kita larut terlalu lama, sebab proses kehidupan menyoal mengenai pertumbuhan. Pertumbuhan untuk terus menjadi pribadi yang lebih baik hari demi hari. Pertumbuhan untuk menjadi guru yang lebih baik.

images (4)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s