Sudahkah…

Cahaya matahari pagi menusuk lurus tepat di kalbu saya hari ini, kehangatannya terasa masuk melalui relung hati yang terdalam, entah kenapa pagi ini terasa begitu berbeda, ditemani secangkir teh dan udara yang terasa begitu segar, mulailah lappy yang seminggu tak tersentuh mulai mendapat perhatian pemiliknya.

Pagi ini pikiran saya tertuju pada mahluk yang bernama manusia, manusia yang begitu unik, begitu berbeda diciptakan Tuhan sebagai pencipta. Setujukah bila saya katakan bahwa tidak selalu manusia itu ingin diunggulkan, ingin menjadi yang pertama, ingin menjadi nomor satu? Tapi secara umum manusia yang memiliki perasaan akan selalu ingin merasa di hargai, dikasihi, diinginkan? Saat kebutuhan ini tidak terpenuhi yang terjadi adalah reaksi kekesalan, kemarahan, dan usaha untuk menarik diri. Hal ini sangat sederhana, namun memiliki kompleksitas.

Kompleksitas?ya terkadang kita menginginkan hal yang sedehana namun sesungguhnya sebenarnya itu merupakan hal yang rumit yang kita tidak mampu untuk menguraikannya. Sangat sederhana saat seorang pembicara menjelaskan “Kasih”, namun begitu rumitnya kasih itu diwujudkan karena melibatkan sebuah konsep,  aktivitas, dan motivasi pelakunya .

Tadi pagi saya sekilas melihat bagaimana infotainment menayangkan berita pasangan selebritis yang berdasarkan berita sebelumnya saling mencintai, namun karena merasa tidak dihargai suaminya yang sibuk syuting, seringlah sang isteri merasa sendiri, kesepian dan membutuhkan sebuah pengakuan sederhana bahwa ia juga seseorang yang membutuhkan sang suami ! Sementara sang suami merasa sudah memberikan bagiannya yang terbaik yaitu hasil kerja kerasnya. Bisa dibayangkan apa yang terjadi kemudian bukan?

Manusia memang unik. Minggu lalu sahabat saya yang baru menikah sedikit mengungkapkan isi hatinya bahwa ia ingin membesarkan anaknya sendirian saja, padahal suaminya ada dan sekilas tidak terlihat ada masalah dalam rumah tangganya. Namun ternyata apa yang terlihat tidak sama seperti kenyataan yang ada, sang suami terlalu sibuk dengan pekrjaan dan kliennya, dan cenderung mengabaikan istrinya. Sebenarnya tidak mengabaikan juga, karena hal standard yamg mesti dilakukan suami sudah dilakukan, tapi sang isteri merasa ia terabaikan karena kebutuhan untuk berbicara, waktu bersama yang tidak lagi diperolehnya dengan kualitas seperti awal masa awal-awal pernikahan mereka dahulu.

Keunikan pribadi yang memiliki cara berpikir berbeda memang akan menjadi sebuah sumber yang tak akan pernah habis, tapi satu hal yang menarik yang terperhatikan adalah bahwa manusia secara umum memang selalu ingin diakui, dihargai, dikasihi entah bentuknya seperti apa yang sesuai.

Mungkin ini juga bentuk yang lain dibanding dua cerita di atas, saat jas kerja yang saya titipkan ke jasa landry mau saya ambil setelah dua minggu ternyata masih dalam keadaan kotor, alias mereka tidak menyelesaikan sesuai kesepakatan awal! Jelas saya kesal sekali. Bukan saja karna jasa laundry nya tidak profesional, namun  karena ia adalah tetangga saya sendiri, yang tahu dimana letak rumah saya, bisa menitip pesan ke tetangga yang terdekat atau sekedar mengirimkan pesan singkat  bahwa ia tidak bisa memenuhi kesepakatan dan seharusnya bisa memberitahu saya sehingga bisa menaruh jas tersebut ke tempat yang lain, mengapa sulit berkomunikasi seperti itu? sebenarnya Ia bisa menjelaskan dengan  komunikasi yang baik sehingga saya tidak merasa diabaikan, merasa tidak dihargai sebagai seorang tetangga😀

Banyak sekali di kehidupan terkadang perasaan diabaikan itu ada, ada saat nya memang terlihat benar, namun ada saatnya tidak terlihat benar, karena pastilah ada penjelsan-penjelasan lanjutan yang bisa membuktikan bahwa perasaan-perasaan terabaikan bukanlah seperti itu karena jatuhnya pemahaman juga mendarat di hati dan pemikiran manusia yang berbeda-beda. Bisa dibayangkan bagaimana seorang melakolis yang peka terhadap perasaan berhadapan dengan  plegmatis yang cenderung tidak peduli?

Yahh… satu hal yang tersampaikan dalam tulisan kali ini adalah bahwa semua manusia pasti menginginkan sebuah rasa ingin dihargai, diakui, diperhatikan, diinginkan. Bagaimana seorang  ingin merasa diinginkan sahabatnya yang lain karena sepertinya kesibukan menghimpit dan ia hanya merasa terabaikan karena sudah lama tidak ada waktu berkualitas untuk bersama? padahal ia selalu berusaha menempatkan sahabatnya di tempat yang utama? kita akan tertawa menanggapi hal-hal seperti ini karena seperti terdengar tidak logis bukan? tapi cukup logis bila dikatakan bahwa kamu ingin terperhatikan bukan ?

Matahari sudah mulai mengambil tempat yang lebih tinggi, waktunya menutup tulisan ini dengan beberapa refleksi ; Sudahkah hari ini ada kesempatan menentukan sebuah hal kecil yang bisa membuat keluarga, teman, sahabat, asisten rumah tangga, kekasih, sahabat atau sekedar orang yang sekilas melintas di depan kita untuk memberikan dukungan untuk ia merasa begitu berharga, dikasihi, atau diingini. Jangan sampai keterjebakan manusia pada pada kepentingan, cara pandang, sempitnya waktu, egoisme selalu jadi tumbal yang terbaik. Selalu ada waktu untuk mengasihi orang lain dengan caranya masing-masing. Sudahkah?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s